“Love Care” – Chapter 1

-love care

Chapter 1:

I Have A New Nanny

Love Care Cover 1 Picture

Summary:

Siapa bilang pria berusia 22 tahun tidak memerlukan pengasuh? Wu Yi Fan, pria tampan, kaya raya, egois, pendiam, sombong dan segala hal menyebalkan itu sangat membutuhkannya. Namun dengan angkuh ia tak ingin itu terjadi dan mengakui bahwa dirinya baik-baik saja. Berbeda dengan Jung Rae Woo, gadis sederhana, pengkhayal yang sedang dilanda kebingungan sebelum ia melihat sebuah selebaran yang tertempel di seluruh dinding-dinding jalanan Kota Seoul, selebaran yang terlalu biasa bahkan membosankan bagi sebagian orang, namun sangat berarti bagi seorang Jung Rae Woo. Selebaran yang membawa hidupnya sedikit lebih baik juga berbalik menjadi mimpi buruk nantinya. Tapi, setiap mimpi buruk pasti mempunyai akhir bukan?

Lalu, apa akhir dari mimpi buruknya?

Author:Dreamcreampiggy ||Length:Chapter || Genre:Romance, Familiy, Drama, Little bit Comedy, AU || Rating:Teen, Parents Strongly Cautioned-13, || Cast:Wu Yi Fan/Kevin Li/Kris (EXO-M)|Jung Rae Woo (OC)|Kim Joon Myun/Suho (EXO-K)|Oh Se Hun/Sehun (EXO-K)|EXO Members|And another Cast.

Disclaimer:

Casts are belongs to God, their self, and their parents, except Original Character. They are fake cast made by myself as a Writer. Stories are mine. NO ONE allowed to PLAGIARIZE, copy-paste, translate, edit, and change half or this entire story without my permission.

~***~

My first impressions about him? Please, don’t ask it. Bad. Really bad.

“Kalian itu sudah menunggak selama tiga bulan!” Suara seorang ahjumma paruh baya terdengar menukik tajam bagaikan pesawat tempur yang bersiap untuk lepas landas lalu menghantam seorang gadis di hadapannya. Gadis bernama Jung Rae Woo yang hanya bisa terdiam sambil terhanyut dalam seluruh khayalan gila yang pernah ia rasakan. Rae Woo bersumpah bahwa suara ahjumma di hadapannya ini sungguh memekakan dan membuat telinganya sakit. Berbanding terbalik dengan suara ibunya yang terdengar lembut dan merdu walaupun hanya berbicara. Namun sayang, kini ibunya sedang terbaring lemas karena sakit di rumahnya. Bukan rumah sakit. Memangnya siapa yang akan membiayai ibunya?

“Kau ini dengar tidak sih?!” Ahjumma itu lagi-lagi berbicara sambil berteriak. Rae Woo segera memfokuskan tatapannya yang tadinya terlihat kosong. Karena kini hanya otaknya saja yang mengembara ke sana kemari. Rae Woo mengernyit kesal saat itu. Rasanya ia ingin menyumpal mulut ahjumma ini dengan sepatunya lalu mengikatkan tubuh ahjumma di hadapannya pada sebuah pesawat rusak hingga pesawat itu jatuh. Tapi, biarlah khayalannya mengembara. Itu tak akan pernah terjadi. Bahkan sepatunya saja hanya satu. Bagaimana bisa ia sumpalkan dengan cuma-cuma? Mungkin nanti saat ada yang membelikannya sepatu lagi.

Mianhae ahjumma. Saat ini aku tidak punya uang. Kau harus mengerti kalau eommaku sedang sakit keras.” Kata Rae Woo sambil mengeluarkan puppy eyesnya yang percuma ia lakukan karena ahjumma itu belum tentu mengerti dan mempunyai belas kasihan.

“Mintalah pada appamu itu! Ia harus bertanggung jawab sebagai seorang ayah! Jangan hanya mabuk-mabukkan setiap hari! Membuat susah putri dan istrinya juga aku!” Kata ahjumma itu lagi. Kini ia mengambil kipas dari balik tasnya dan mengipaskan kipas itu ke wajahnya.

Aigoo cepatlah! Aku butuh uang!”

“Aku harus bagaimana? Uangku bahkan tak cukup untuk makan ahjumma. Berilah aku waktu satu minggu untuk mencari uang. Aku mohon…” Kata Rae Woo yang segera berlutut di depan ahjumma yang sebenarnya tak pantas di perlakukan seperti itu sambil membungkuk berkali-kali.

“Tidak bisa! Cepat! Aku butuh uang sekarang! Kalau kau tidak memberikan uang sewa rumah itu sekarang, aku akan mengusirmu, ayahmu yang pemabuk dan ibumu yang sakit-sakitan itu keluar!” Rae Woo menarik napas kesal. Ia sungguh tak bisa menahan amarahnya. Ia membiarkan ahjumma ini menghina ayahnya, lalu sekarang ibunya juga? Sungguh ahjumma ini telah membangkitkan singa yang tertidur di dalam tubuh Rae Woo.

“Cepat! Atau aku akan menyuruh orang-orangku untuk menyeret keluargamu keluar! Kau sudah sering sekali menunggak!”

Rae Woo menarik napasnya pelan. Senyum licik tergambar pada wajahnya. Salah besar jika orang-orang mengiranya polos bahkan tak bisa apa-apa. Salah besar. Dan sekarang singa yang sudah terbangun itu siap mengaum.

Satu, dua, dan tiga.

“YAK! KAU AHJUMMA CEREWET! PERGI! AKU SUDAH BILANG AKAN MEMBAYARNYA NANTI! KAU YANG MEMULAI! KAU MAU AKU APAKAN HUH? CEPAT KELUAR! DASAR CEREWET! AKU HERAN KENAPA SUAMIMU INGIN MENIKAHIMU! CEPAT PERGI! JANGAN PERNAH MENGHINA KELUARGAKU LAGI!!!!!” Teriak Rae Woo dengan suaranya yang keras dan bisa dibilang cempreng itu. Ia melepas sepatunya dan mengarahkan benda itu pada ahjumma di hadapannya. Ia sudah diambang batas kali ini. Ahjumma itu sudah berani menghina keluarganya sejak pertama kali datang kesini sepuluh menit yang lalu. Jadi, wajar jika Rae Woo melakukan hal ini di pagi hari yang cerah dan seharusnya berbahagia ini.

“Kau berani hah?” Tantang ahjumma tadi. Salah! Jangan pernah melawan Rae Woo yang sedang marah atau kau akan celaka!

“Berani? IYA!” Kata Rae Woo sambil melemparkan sepatunya ke arah  sang ahjumma berkali-kali.

“YAK! YAK! YAK! ANAK KURANG AJAR!” Kata ahjumma itu kesal.

“Aku tak perduli! Sana pergi!” Kata Rae Woo. Ia terus melempar dan mengambil sepatunya lalu melempar lagi sampai ahjumma itu mundur melewati gerbang rumahnya. Rae Woo segera menutup gerbang rumahnya dengan kencang dan menguncinya.

“Fiuh…” Rae Woo menghembuskan napasnya dan meniupkan sebagian napasnya ke atas hingga poni rambutnya terangkat.

“Kau! Awas! Minggu depan aku akan kembali!” Kata ahjumma menjengkelkan tadi yang ternyata baru akan pergi. Sungguh wajah ahjumma itu mirip sekali dengan wajah bibi menyebalkanpada salah satu drama yang baru ia tonton minggu lalu.

“Iya dasar cerewet! Bibi sepertimu memang menyebalkan! Dasar ahjumma aneh!” Teriak Rae Woo kesal. Ia menghentakkan kakinya dan menjambak-jambak rambutnya yang ia ikat satu. Semakin lama ia akan gila sepertinya. Ia semakin sulit membedakan dunia nyata dengan khayalan atau film. Ditambah ia harus mencari uang dan berkuliah. Lengkap sudah penderitaannya.

“Ah aku harap akan ada pangeran berkuda putih setampan Yoon Ji Hoo F4 datang menghampiri dan menikahiku… Ya Tuhan aku ingin sekali… Huhuhu…” Rae Woo memohon dan menatap ke atas langit. Berdoa agar pangeran itu jatuh begitu saja.

~***~

Matahari bersinar dengan sangat teganya siang hari ini. Membuat seluruh manusia yang berada di sebuah Kota bernama Seoul itu mandi dengan peluh mereka sendiri. Beruntunglah bagi mereka yang membawa mobil, menaiki motor ataupun bus dan segala kendaraan nyaman lainnya. Tapi Rae Woo? Untuk berangkat kuliah saja ia harus berjalan kaki.

Dan kini seperti anjing kelaparan, Rae Woo sedang berdiri di depan sebuah kaca Super Market yang besar sambil menatap dan meneguk ludahnya berkali-kali ketika melihat seorang anak laki-laki berumur lima tahun sedang memakan dengan lahap ramyeon dalam cup di hadapannya.

Rae Woo melihat sekeliling Super Market dari jendela dan menyadari ibu anak itu sedang berbelanja. Rae Woo mengetuk kaca jendela sampai anak itu melihatnya, Rae Woo tersenyum sambil menunjuk ramyeon di hadapan anak laki-laki itu. Siapa yang tahu kalau mungkin anak itu akan memberikannya satu?

Anak itu mengangkat wajahnya dan tertawa kecil melihat Rae Woo. Manisnya. Rae Woo yakin anak itu pasti akan memberikannya. Entah anak itu akan turun dari kursi itu lalu berlari ke depan untuk memberikannya ramyeon yang sedang ia makanatau justru menyuruh ibunya memberikan ramyeon baru untuknya. Dan Rae Woo akan mengambil pilihan ke dua. Namun bukannya khayalan Rae Woo yang menjadi kenyataan tetapi justru sebuah ejekan yang ia terima. Sial.

“Weeeek! Sana Jelek!” Rae Woo terkejut begitu anak laki-laki berwajah polos itu seketika berubah seperti setan kecil yang menggodanya dan merendahkannya! Bahkan ia memanggil Rae Woo jelek? Yak! Rae Woo ini cukup cantik bagi ibunya!

Rae Woo baru ingin membalas kata-kata anak itu lalu masuk ke dalam Super Market dan menyumpal mulut setan kecil itu dengan buku-bukunya sebelum ibu dari anak itu mendekat. Rae Woo dengan cepat menjulurkan lidahnya kesal lalu melenggang pergi.

“Ah! Semuanya menyebalkan! Aku mau makan! Aku belum sarapan! Aku harap awan bisa mengeluarkan makanan! Aaaaa! Siapa saja! Beri aku makanan!”

BRUSHHHHH

Rae Woo yang sudah menjadi perhatian berbagai orang karena teriakan dan gerutuannya, semakin mencolok ketika sebuah motor sport berwarna hitam yang kelihatan paling mahal dan salah satu keluaran terbaru merek ternama itu melintasi sebuah kubangan air hujan di tepi jalan dan mencipratkan air kotor yang terbilang cukup banyak itu ke tubuh Rae Woo.

“YAK! KAU! AISHHH! KENAPA AKU SIAL SEKALI SIH HARI INI! AWAS KAU!” Rae Woo yang tak sabar ingin melampiaskan kemarahannya, dengan cepat segera berlari menyusul motor itu.

Ia benar-benar gila. Ia harus mencari bahan pelampiasan kini. Ia lapar, ia di rendahkan oleh anak kecil, di tagih hutang oleh ahjumma menyebalkan tadi pagi dan kini terkotori oleh air kubangan? Dan orang yang telah membuatnya marah setengah mati itu harus menerima ganjarannya kini. Rae Woo akan mengejar orang itu!

Ternyata kemampuan berlarinya yang setara dengan atlet itu masih cukup bagus dan membantunya saat ini. Tas ransel di punggungnya terlihat bergoyang-goyang seiring laju larinya. Motor itu berhenti karena lampu merah. Kebetulan sekali!

Rae Woo masih berlari sebelum ia melihat seorang anak sekolah yang ia yakini sedang membolos sambil meminum sebuah minuman. Sepertinya bubble tea?  Rae Woo yang melintas di hadapan anak itu segera mengambil bubble tea dari tangan anak berwajah datar tetapi tampan itu  seperti seorang perampok dan berteriak.

“Maaf! Aku mintaminumanmu! Ikhlaskan ya!” Teriak Rae Woo mengabaikan teriakan anak sekolah yang terdengar marah itu.

Tidak! Lampu merah itu akan hijau! Ia harus mempercepat langkahnya untuk membalaskan dendamnya sendiri! Ayo Rae Woo! Yak! Tepat!

HAP!

Rae Woo berdiri di hadapan motor itu tepat ketika lampu berganti hijau. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar menghalangi motor sport hitam dan mahal itu yang akan melintas.

TIIIN!

“Minggir!” Teriakan bersuara berat dan dalam dari sang pengendara yang bertubuh tinggi walaupun sedang menunduk karena mengemudikan motornya tidak menghalangi niat Rae Woo untuk melakukan hal yang sudah ia rencanakan secara asal-asalan.

“Minta maaf padaku!” Teriak Rae Woo. Suara klakson dari kendaraan di belakang motor itu semakin keras. Namun karena tak terlihat pergerakan dari motor mewah dan mahal di depannya, berbagai kendaraan segera menyalip sehingga membuat jalanan sedikit padat.

“Kau membuat masalah denganku nona. Aku tak melakukan apapun padamu.” Kata laki-laki itu dengan suara datar. Wajahnya masih tertutup dengan helm full face, dan Rae Woo meyakini laki-laki yang memakai helm full face semacam itu akan sangat tampan dan mirip dengan para pembalap atau satria baja hitam.

“Kau mengemudikan motor dengan sangat cepat sehingga saat kau melewati kubangan air tadi, air itu mengenaiku! Dan seluruh tubuhku basah dengan air kotor!” Kata Rae Woo sebal.

“Lalu?”

Argggghhh! Rae Woo tak tahan lagi! Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Hari yang panas, amarah yang membakar dan laki-laki menyebalkan juga seluruh kondisi yang menimpanya membawa Rae Woo melangkah maju mendekati laki-laki itu lalu dengan cepat menarik helm yang di kenakan sang pengendara. Ini dia! Rencana terhebat dalam seumur hidup seorang gadis bernama Jung Rae Woo.

BYURRR

Isi bubble tea di tangannya kini sudah berpindah tempat. Kini isi minuman itu sudah membasahi kepala sampai tubuh sang pengendara yang tak lagi mengenakan helm. Pengendara itu menunduk, telinganya sudah berwarna merah menunjukan emosi yang meluap-luap.

“APA-APAAN KAU INI!” Teriak laki-laki itu yang segera mengangkat wajahnya dan menatap Rae Woo kesal. Suaranya yang besar itu membuat beberapa pejalan kaki terkaget-kaget. Bahkan anak sekolah yang tadi ingin mengambil minumannya di tangan Rae Woo berhenti seketika dan melihat kejadian itu.

“Ya Tuhan, kau menurunkan malaikat tampan padaku. Sungguh laki-laki ini tampan sekali Ya Tuhan.”

Rae Woo menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran gila itu dan menatap laki-laki berambut kecoklatan yang terlihat sangat keren. Deskripsi! Harus di deskripsikan!

Laki-laki itu berkulit putih dan Rae Woo yakin pasti sangat lembut. Hidungnya sangat mancung. Bibirnya tidak terlalu besar namun terlihat cukup tebal di bagian atas. Rae Woo ingin sekali mencium laki-laki itu jika ia kekasihnya. Matanya terlihat tajam, alisnya juga tebal. Lalu suaranya berat dan dalam. Dan tinggi laki-laki itu tak perlu di pertanyakan. Sangat tinggi. Jaket biru yang melekat di tubuhnya membuat laki-laki di depannya semakin tampan walau sudah kotor akibat tumpahan bubble tea gratis hasil rampasan Rae Woo.

“Mi-mi-minta maaf padaku!” Lajut Rae Woo dengan suara tergagap karena gugup.

“Bukan urusanku! Minggir sana!” Teriak laki-laki itu kesal. Ia menekan klakson motornya keras. Namun Rae Woo yang mempunyai suara teriakan lebih besar daripada klakson itu hanya tertawa kecil dan dengan cepat melangkah semakin mendekati laki-laki itu.

Rae Woo mencium bau alkohol dari mulut laki-laki itu yang membuatnya teringat pada ayahnya sendiri yang bahkan minggu ini belum menginjakan kaki kembali di rumahnya.

Laki-laki itu hanya menatap Rae Woo kesal lalu mengabil kembali helmnya di tangan Rae Woo dan segera memacu motornya.

“YAK! DASAR NAMJA GILA! AWAS KALAU AKU BERTEMU DENGANMU LAGI!” Teriak Rae Woo yang sungguh memekakan telinga siapapun.

~***~

Rumah bergaya Eropa seperti istana yang luasnya hampir berhektar-hektar dengan lapangan golf sendiri dan berbagai fasilitas lainnya mungkin hanya akan kalian semua temui pada drama-drama Korea yang selalu di tampilkan di TV dan menjadi favorit para remaja. Tapi kini rumah itu memang benar-benar ada. Dan rumah itu memang di huni oleh seorang laki-laki angkuh yang tak berperasaan. Yang membuat hampir puluhan pelayan rumah itu berlarian panik seperti hama tanaman yang sebentar lagi akan di basmi oleh insektisida atau sejenisnya.

Suara khas dari sebuah motor sport hitam yang mewah dan di ketahui sebagai keluaran terbaru merek terkenal yang pernah di sebutkan di salah satu bagian pada cerita ini terlihat memasuki rumah tersebut yang mempunyai gerbang super besar dan tinggi. Bahkan kalian harus menempuh kurang lebih lima ratus meter sebelum kalian berhasil memasuki dan melihat rumah maha besar itu.

Beberapa pria yang lebih tepat di sebuat dengan bodyguard terlihat sedang berlarian sambil berbicara melalui microphone kecil pada kerah jas hitam mereka yang tersambung secara otomatis pada kepala pelayan di rumah itu dan ke sebuah ruangan operator. Bahkan rumah itu punya ruangan operator?

“Tuan muda sudah tiba! Bersiaplah,” kata-kata itulah yang kebanyakan terdengar dari para bodyguard. Terlalu berlebihan untuk kepulangan seorang anak dari pemilik rumah itu. Tapi berbeda jika kalian membaca cerita ini. Anak itu bukanlah anak biasa yang mudah di kendalikan. Karena jika anak itu mudah di kendalikan, aku tak akan menceritakan cerita ini pada kalian. Aku harap kalian bisa mengerti bagaimana anak pemilik rumah itu disini.

Di sisi rumah maha besar ini, hampir puluhan pelayan lain yang terdiri dari pria dan wanita dengan jumlah yang sebanding terlihat sedang merapihkan seragam mereka dan berbaris memanjang di samping kedua sisi pintu utama yang memiliki sensor akurat.

Bukan. Pelayan-pelayan itu bukan mengantri untuk mendapatkan uang bulanan. Melainkan untuk menunggu kedatangan tuan muda itu. Seorang pria paruh baya yang hampir seluruh rambutnya memutih karena terlalu banyak berpikir menanti cemas di depan pintusebelum sebuah motor yang tak perlu di jelaskan lagi bagaimana ciri-cirinya berhenti. Pengemudi itu turun dengan cepat dan berjalan masuk. Pria paruh baya yang berpangkatkan kepala pelayan itu segera membungkukan kepalanya diikuti oleh puluhan pelayan lain di balik pintu.

Laki-laki yang masih mengenakan helm full face itu terlihat bagaikan raja. Ia terus berjalan di saat para pelayan masih membungkuk dan ketika ia melihat pelayan yang mengantri di barisan paling akhir, ia melepaskan helm yang ia kenakan dan melemparnya kasar pada pelayan laki-laki di sampingnya yang dengan sigap segera menangkapnya sampai harus tersungkur.

Wajah tampan laki-laki itu kini dengan mudah terlihat. Membuat kita teringat pada sebuah kejadian sebelumnya. Kepala pelayan yang tadinya berdiri di depan pintu kini berlari cepat menuju tempat tuan mudanya berada.

Kepala pelayan itu mencoba mensejajarkan langkahnya di samping laki-laki tampan namun angkuh itu. Meneguk ludahnya sendiri untuk berbicara.

“Tuan. Anda mendapatkan teguran lagi dari Nyonya besar karena selalu pulang terlambat. Bahkan dua hari yang lalu Anda tak pulang sama sekali.” Kata kepala pelayan yang sering di panggil dengan sebutan Pak Lee.

“Katakan padanya aku juga mempunyai urusanku sendiri. Jangan mengganggu.” Jawab laki-laki ini. Datar, dingin, dan angkuh. Ia melepas jaket biru tuanya dengan kesal dan menunjukan kaus putihnya yang kini sudah terkotori dengan bekas minuman aneh. Pak Lee menatap kaget baju laki-laki yang berstatus sebagai majikannya itu.

“Tuan,” belum sempat Pak Lee bertanya laki-laki tampan ini sudah menyelanya.

“Ada gadis aneh di jalan tadi yang tiba-tiba menumpahkan sebuah minuman padaku.” Jawabnya. Ia berjalan meninggalkan Pak Lee dan menaiki tangga memutar seperti yang tervisualisasikan pada film-film dongeng.

Pelayan-pelayan lain yang tadinya berbaris di ruangan depan berjalan mendekati Pak Lee dan mencoba menenangkannya. Kasihan Pak Lee. Ia harus mengabdikan hidupnya mengasuh laki-laki itu.

“Dia memang keterlaluan. Aku heran kenapa ia bisa seperti itu. Menjijikan.” Kata salah satu pelayan laki-laki yang berpenampilan sangat rapih. Pelayan lain hanya mengangguk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sepertinya Tuan muda Kris memerlukan pelayan pribadi. Aku tak sanggup jika harus mengurusinya juga.” Kata Pak Lee.

“Pak Lee. Serahkan padaku masalah itu. Kita akan mencari pengasuh untuk tuan muda. Secepatnya.” Kata seorang pelayan perempuan bernama Shin Young yang terkenal banyak berbicara namun memiliki ide-ide cemerlang.

“Benarkah?” Tanya semua pelayan kecuali Pak Lee dan Shin Young sendiri.

Shin Young tersenyum yakin.

“Benar. Seluruh orang di Seoul akan mengetahui dan berdatangan ke rumah ini. Lalu, kita akan memilih seseorang yang pantas untuk tuan muda.” Kata Shin Young dengan senyum liciknya yang menakutkan.

~***~

Hari kedua.

Rae Woo berjalan lesu di trotoar sambil menendang sebuah kaleng minuman ringan secara asal-asalan. Sebenarnya ia ingin sekali meminum sesuatu yang manis dan menyegarkan saat ini. Bukan hanya air putih. Tapi ia takut jika uangnya tak cukup untuk membayar makan malamnya sendiri hari ini dengan Ibunya. Catat. Rae Woo tak ingin membiayai Ayahnya yang pemabuk itu makanan. Ia sedikit tidak sudi.

Kini ia belum bisa kembali ke rumahnya yang nyaman itu karena ia sendiri harus mencari sebuah pekerjaan tetap yang dapat menghasilkan uang setidaknya untuk satu minggu ini. Tapi apa? Sekarang ini mencari pekerjaan untuk seorang perempuan yang bahkan belum lulus menempuh perguruan tinggi sepertinya diibaratkan mencari jarum di tumpukan jerami yang kini sedang di bakar oleh seorang kakek tua. Hampir mustahil.

“Ahhhhh! Kenapa ini semua terjadi padaku? Memangnya apa salahku sampai-sampai aku harus menderita seperti ini!” Teriak Rae Woo kesal. Dua hari ini ia sudah sering berteriak di tengah-tengah jalan. Ia berharap ada seseorang yang mengasihaninya dan memberikan banyak uang setelah itu. Bukannya menyimpratkan air kotor padanya seperti kemarin.

Mata Rae Woo memandang datar jalan di depannya sebelum ia merasakan kakinya menginjak sebuah selebaran berwarna yang terlihat sangat penting. Kenapa selebaran itu penting? Apa selebaran itu menginformasikan tentang keadaan Korea sekarang? Atau apakah selebaran itu akan menginformasikan konser Super Junior yang terbaru hingga hampir seluruh dinding-dinding di Kota Seoul di penuhi oleh selebaran ini? Rae Woo sendiri baru menyadarinya dan tak habis pikir dengan hal ini. Selebaran ini terlalu banyak. Bahkan ada beberapa selebaran yang tertiup oleh angin secara sia-sia. Mengotori Kota Seoul tercintanya.

Rae Woo mengambil salah satu selebaran yang tertempel di dinding sebelahnya dan membaca selebaran itu seksama.

“Pengasuh? Selebaran ini tertempel di hampir seluruh Kota Seoul dan hanya berisikan informasi ini? Dasar gila.” Kata Rae Woo tak habis pikir. Ia ingin membuang selebaran itu sebelum ia menancapkan pandangannya kembali dan melanjutkan aktivitas membacanya.

“Apa ini? Bayaran menjadi seorang pengasuh besar sekali!”

Teriak Rae Woo tak percaya. Matanya membulat seperti bola. Tapi yang harus kalian tahu tak seperti bola juga. Tak mungkin Rae Woo memiliki mata sebesar bola sepak atau basket jika kepalanya saja tidak lebih besar daripada benda itu.

“Bayarannya bisa melunasi hutang sewa rumah! Kyaaaaa! Aku harus mendapatkan pekerjaan ini!” Kata Rae Woo sambil melompat-lompat senang. Jika kemarin ia sangat sial, berarti kini ia sangat beruntung. Catat sekali lagi. Terlalu beruntung hingga ia menganggap ia hanya harus mengasuh seorang bayi.

“Aku suka anak kecil! Aku pasti bisa mengasuhnya!” Kata Rae Woo senang. Kini wajah lesunya berubah sangat ceria bahkan bisa-bisa menjadi sangat cerah mengalahkan sinar mentari.

Rae Woo kembali membaca selebaran itu dan berusaha mencerna di mana ia harus mendaftar dan kapan. Rae Woo membaca informasi yang terdapat di selebaran itu dan terkejut ketika ia mendapati bahwa pekerjaan itu bisa di dapatkan setelah seleksi ketat! Dan seleksi itu di lakukan besok pukul empat sore.

Sial! Ia punya mata kuliah pada jam itu! Dan ia tak mungkin membolos! Ia tak mau di keluarkan dari perguruan tingginya yang sangat terkenal dan biasanya hanya di tempati oleh anak-anak dari kalangan atas. Ia mendapatkan beasiswanya dengan susah payah!

“Tenang Rae Woo. Yakinlah. Jam kuliahmu di mulai pukul tiga dan selesai pukul lima. Kau bisa langsung pergi ke tempat itu dan mendapatkan pekerjaannya! Jung Rae Woo Fighting!” Kata Rae Woo dengan suara yakin sambil melompat-lompat menyemangati dirinya sendiri. Rae Woo segera memasukan selebaran berharga itu ke dalam tasnya yang sudah sangat lusuh dan berjalan pulang. Ternyata hidup masih berpihak padanya yang ceroboh ini.

Ya, sangat ceroboh hingga ia tak membaca salah satu pemberitahuan yang terletak di bagian paling bawah selebaran itu.

*Kami mengharapkan pengasuh yang mempunyai tingkat kesabaran dan tingkat pemikiran yang tinggi untuk mengasuh seorang laki-laki berumur 22 tahun.*

~***~

“APA? TIDAK!”, suara berat, dalam dan kencang milik seorang laki-laki itu benar-benar memekakan seisi rumah megah itu. Lee Shin Young, seorang pelayan perempuan di rumah itu berdiri sambil mengernyit takut. Ia tak berani menatap wajah majikannya sendiri yang kini sedang menancapkan tatapan menyeramkannya yang dapat membuat jantung seseorang berhenti berdetak selama satu detik.

“Tapi kami sudah menempelkan selebaran-selebaran itu di seluruh kota Tuan Muda.” Jawab Shin Young takut.

“Yak Ahjumma! Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya bahwa aku bisa mengurus diriku sendiri! Aku tak perlu pengasuh! Kau ingin ke pecat huh? Lagipula Ibu-ku tak akan setuju dengan hal konyol ini!” Laki-laki yang sebenarnya sangat tampan dan sering di panggil dengan sebutan Tuan Muda itu masih berteriak dan memaki dengan segenap hatinya.

“Maafkan saya Tuan Muda. Tapi nyonya besar sudah menyetujui hal ini. Kami tidak bisa membiarkan anda pergi kemanapun hari ini dan besok karena kami akan meminta anda untuk ikut serta memilih pengasuh untuk anda sendiri.” Kata Shin Young.

Fine! You make all my day ruined! Great!” Laki-laki ini berbicara dengan kesal dan dalam nada sarkastik yang sebenarnya tak di mengerti oleh Shin Young. Pelayan itu hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan laki-laki tampan ini. Membiarkannya sendiri.

Suasana hening di dalam kamar yang sangat mewah dengan tempat tidur King Size dan berbagai pernak-pernik lain yang menunjukan betapa nikmatnya hidup laki-laki yang persis seperti pangeran ini terpecah ketika suara ponselnya berdering.

Laki-laki itu berjalan mendekati sebuah meja kecil di samping tempat tidurnya dan mendapati sebuah pesan.

From: Yi Xing

Subject: <No Subject>

Kris! Aku melihat selebaran aneh di seluruh kota. Kau membutuhkan pengasuh? Alamat yang tertera menunjukan rumahmu. Kalau kau perlu aku bisa memberikan pengasuhku sewaktu kecil untukmu. Bagaimana kau mau? Oh ya, kami akan datang ke rumahmu besok. Pukul empat. Kami juga ingin mendapatkan pekerjaan itu ><

Laki-laki yang di panggil dengan sebutan Kris itu mengerutkan dahinya dan membanting ponselnya ke samping. Bahkan sahabatnya sendiri tertawa di atas penderitaannya? Dan di sini, sahabatnya bukan hanya satu. Lihat bukan? Kami. Berarti masih banyak sahabat-sahabatnya yang akan muncul. Sial.

~***~

 “Tuan Muda.” Suara seorang pria paruh baya di sampingnya membuat laki-laki tampan ini menoleh.

“Ada apa Pak Lee?” Tanya Kris dengan kesal. Ia menatap kosong Smart TV di depannya dan hanya sibuk mengganti channel satu persatu secara berurut.

“Ini sudah pukul empat sore. Dan sudah banyak orang yang mengantri di bawah. Anda harus turun untuk memilih pengasuh anda sendiri.” Kata Pak Lee.

“Pilih saja sesukamu Pak. Aku hanya tinggal memecatnya jika tak suka.” Jawab Kris.

“Tidak bisa Tuan, Anda harus memilihnya dan Anda tak bisa memecatnya karena hanya nyonya besar yang berwenang melakukan itu.” Kata Pak Lee.

Kris membanting remote TV-nya lalu bangkit dari kursi dan keluar dari kamarnya yang sangat nyaman. Kaus putih berlengan panjang yang simple namun sangat mahal dengan merek fashion ternama yang terlihat jelas dari design baju itu beserta celana sepanjang lutut yang berwarna coklat menambah ketampanan laki-laki berambut kecoklatan ini.

Kris menuruni tangga rumahnya. Ia sungguh terlihat seperti pangeran kini. Sangat tampan. Kris menunduk dengan malas lalu berjalan ke sofa empuk yang berada di sisi lain ruangan itu. Beberapa calon pengasuhnya yang berdiri di sisi pintu masuk ruangan tengah terperangah dan saling membisik dengan wajah gembira atau bisa dibilang senang. Bagaimana tidak? Mereka akan mengasuh pria setampan Kris.

Kris menatap risih antrian panjang itu dan segera mengalihkan pandangan kepada Pak Lee.

“Bagimana aku memilihnya?” Tanya Kris.

“Kami akan meminta mereka untuk meyakinkan Anda Tuan Muda.” Kata Pak Lee.

Kris menghembuskan napasnya kesal. Mari kita mulai.

~***~

Kris menatap calon pengasuhnya yang pertama kini. Calon pengasuhnya terlihat masih sangat muda. Terlihat dari Flowery Dress yang di kenakan perempuan berkepang dua itu. Manis, tapi terlalu polos. Hey! Siapa yang memperdulikan fisik? Tak ada!

“Berapa umurmu?” Tanya Kris.

“Sembilan belas tahun.” Jawab anak perempuan itu.

“Apa? Sembilan belas? Maaf aku tak menerima pengasuh yang lebih muda dariku. Minimal kau harus sebaya denganku.” Ia menggerakkan pergelangan tangannya ke arah pintu keluar dengan wajah angkuh. Perempuan itu menunduk dan mengangguk sedih lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.

Kedua!

“Berapa umurmu Ahjumma? Tanya Kris tak yakin. Perempuan di depannya ini sangat bersemangat. Tapi Kris sendiri merasa takut saat melihat Ahjumma itu mengedipkan sebelah matanya. Oh Tuhan! Ia sedang tidak mencari pasangan! Ia mencari pengasuh!

“Empat puluh tahun. Belum menikah.” Lanjut Ahjumma itu dengan lantang. Kris bergidik geli dan menatap Pak Lee yang sedang menahan tawanya. Kris menggeleng dan lagi-lagi menggerakan tangannya ke arah pintu keluar.

“Maaf. Sepertinya lebih baik aku mencari pangasuh yang sudah berkeluarga atau semacamnya.” Kata Kris. Ahjumma genit itu kelihatan kecewa dan segera berjalan keluar. Belum sempat calon pengasuh berikutnya di panggil ponsel Kris berbunyi. Ia menatap layar ponselnya dan menghembuskan napas lega ketika Zhang Yi Xing sahabatnya mengatakan ia dan teman-temannya tak jadi datang karena ada urusan mendadak. Baguslah. Kris tak ingin menjadi bahan ejekan selama satu tahun penuh.

Kali ini Kris segera menggelengkan kepalanya karena yang ia lihat adalah seorang nenek tua. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nenek itu mengasuhnya. Tidak. Lebih baik ibunya yang melakukan itu.

Astaga kali ini laki-laki? Kalian pasti tahu bukan apa yang akan Kris katakan? Tidak! Ia tak ingin di asuh oleh laki-laki! Apalagi laki-laki itu sangat lemah gemulai. Ia takut laki-laki itu akan membahayakan dirinya. Mulai fisik maupun mental dan batinnya.

Kelima! Mungkin ini yang terburuk!

Seorang perempuan berjalan ke hadapan Kris. Dengan dress super pendek tanpa lengan berwarna merah dan high heels senada yang cocok di kenakan perempuan berambut pendek itu. Kris meneguk ludahnya sendiri. Gila. Ia tak mungkin memiliki pengasuh seperti itu. Namun belum sempat Kris mengucapkan sesuatu, perempuan itu sudah duduk tepat di pangkuannya dan menghalangi kata-kata yang akan keluar dari mulut Kris dengan meletakan jarinya pada mulut Kris.

“Emmm… Mungkin selain pengasuh aku juga bisa memberikan lebih?” Tanya perempuan itu dengan wajah yang…Kris segera menggelengkan kepalanya dan bergidik ngeri lalu mendorong tubuh perempuan itu menjauh.

“Aku mencari pengasuh yang baik. Maaf menyinggung.” Kata Kris masih dengan nada jijik. Ia membersihkan pakaiannya sendiri atau apapun yang sempat tersentuh oleh perempuan itu. Kris menyuruh perempuan itu keluar dan dengan frustasi, Kris menundukan kepala dan mengacak-acak rambutnya kesal.

Masih banyak pengasuh yang harus ia pilih. Bahkan antriannya sangat panjang dan terus bertambah. Tapi tak ada satupun yang benar dan normal disini!

~***~

Rae Woo menghentikan laju larinya ketika ia merasa kedua kakinya sudah keram dan jantung kecilnya itu sudah tidak sanggup memompa darah dengan keadaan terburu-buru yang di salurkan Rae Woo dengan terus berlari dari kampusnya sampai kemari (Sebenarnya tidak sepenuhnya berlari, Rae Woo sempat menaiki bus hanya saja sebagian perjalanan tanpa kendaraannya ia habiskan dengan berlari.)

Tangan putih Rae Woo ia gerakkan masuk ke dalam tas punggung lusuhnya dan meraba-raba dengan maksud mencari sebuah kertas.

Aha!

Rae Woo merasakan benda itu dan menariknya keluar. Sekali lihat, Rae Woo segera mencocokkan alamat pada kertas itu dengan daerah sekitarnya. Mata Rae Woo ia alihkan ke depan dan mendapati gerbang megah yang dijaga ketat oleh beberapa Bodyguard, tanpa pikir panjang Rae Woo segera menjajakan kakinya memasuki gerbang besar itu, melintasi jalan yang cukup besar dengan pohon-pohon teratur berbagai bentuk di sampingnya. Tak perlu ragu lagi Rae Woo pasti yakin bahwa jalan besar yang cukup jauh ini akan membawanya pada tempat tujuan di selebaran itu.

Baru berjalan sejauh empat ratus meter, Rae Woo sudah melihat antrian yang sangat panjang dan tak tahu di mana ujungnya.

“Astaga! Panjang sekali! Bagaimana mungkin nanti aku akan diterima dengan kondisi pendaftar sebanyak ini?” Ucapan Rae Woo yang cukup lantang membuat seorang laki-laki paruh baya di depannya menoleh ke belakang dan tersenyum.

“Tenang Nona, sudah banyak pendaftar lain yang ku lihat berjalan dengan lesu keluar dari tempat ini. Berarti seleksi yang di lakukan cukup ketat dan kita mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.”

Suara paman yang membuat Rae Woo lebih tenang itu membawa senyuman ramah dari Rae Woo. Mereka berdua terlihat mengobrol bersama sedikit dan berbagi cerita juga alasan mereka mendaftar.

Tak lama ketika mereka menghabiskan menit berikutnya dengan mengobrol dan sesekali maju beberapa langkah mengikuti antrian, seorang perempuan bertubuh cukup besar bernama Shin Young yang menjadi pelayan di tempat itu lewat di hadapan Rae Woo dan menyampaikan sesuatu pada Bodyguard di belakangnya dengan lantang.

“Kunci gerbang ini dan jangan biarkan siapapun masuk lagi untuk mendaftar! Kita harus menekan peserta sehingga memudahkan dalam pemillihan!”

Rae Woo meneguk ludahnya ngeri mendengar kata-kata Shin Young yang sangat serius. Beruntung ia datang pada waktu yang tepat dan menjadi peserta terakhir. Tapi Rae Woo bisa merasakan kesabarannya diuji ketat karena antrian di depannya masih harus menunggu untuk usai.

~***~

 Sudah pukul berapa ini? Matahari tak terlihat lagi dan langit sudah berubah menjadi hitam kelam seperti suasana hati Kris. Ratusan lebih orang-orang aneh yang Kris hadapi setiap menitnya namun tak ada satupun yang sesuai dengan apa yang ia harapkan walau Kris tahu bahwa sebenarnya apa yang ia harapkan itu tidak ia inginkan. Siapa yang ingin mempunyai pengasuh di usia 22 tahun? Memalukan.

“Tuan Muda. Ini adalah pendaftar terakhir kita. Kami harap anda bisa mempertimbangkannya. Kami mohon.” Pak Lee membisikan kalimat itu pada telinga Kris yang hanya ia tanggapi dengan anggukan tak acuh.

Sementara itu, Rae Woo sedang ternganga lebar di depan rumah megah yang ia tapaki kini. Mengagumi setiap arsiterktur rumah itu dan membayangkan dirinya tinggal di sini. Beberapa orang membawa Rae Woo masuk ke dalam rumah dan berjalan sedikit lagi hingga Rae Woo menemukan sesuatu.

Kini ia sampai pada sebuah tempat seperti ruang tamu yang di tata sedemikian rupa seperti di kastil dongeng. Mata Rae Woo belum sempat melihat apapun lagi selain penataan ruangan itu yang sedikit di dominasi dengan warna emas dan putih.

“APA?” Teriakan seseorang yang takasing di telinganya membuat Rae Woo tertegun dan baru menatap ke depan. Melihat laki-laki tertampan yang pernah ia temui kemarin kini sedang terduduk jelas pada sebuah sofa empuk di depannya. Memandang Rae Woo dengan tatapan kesal dan dingin.

“Kau?” Hanya kata itu yang berhasil dilontarkan Rae Woo. Ia menggeleng dengan tak percaya dan memejamkan mata sebentar mencoba memastikan apa dia sedang bermimpi.

“Mau apa kau kesini? Dasar gadis tak waras.” Kris segera mengeluarkan kata-kata menusuknya itu yang sudah biasa bagi Pak Lee dan pelayan-pelayan lain.

“Aku ingin mendaftar jadi pengasuh. Lalu kenapa kau di sini? Dengar ya kau belum meminta maaf padaku!” Rae Woo membalas perkataan Kris lagi tanpa takut dan menjadi tontonan langsung bagi para pelayan juga Pak Lee.

“Pengasuh? Maaf tidak jadi. Kau bisa pergi dan aku tak akan pernah mengucapkan kata maaf jika aku tak melakukan apapun padamu. Justru kau yang harus minta maaf!”

“Enak saja! Kau jelas-jelas tak bisa berkendara dengan baik ya Tuan! Aku heran kenapa kau membutuhkan pengasuh? Memang siapa yang masu di asuh? Anakmu? Sungguh kasihan ia mempunyai Ayah sepertimu!”

“YAK! Kau!”

Pak Lee yang merasakan hawa sengit di antara dua manusia ini segera menengahi hal itu dan berjalan mendekat kepada Kris.

“Tuan. Anda tak bisa menolak pendaftar kali ini. Seperti yang sudah saya katakan dia adalah orang terakhir. Jadi anda harus menerimanya.”

Hari ini sungguh menyebalkan. Dalam hidupnya, Kris adalah orang yang sangat dingin, berlindung di balik karisma dan wajah cool  yang di puja-puja setiap wanita. Tapi sekarang, image yang ia bangun sejak dulu itu hancur sudah dengan pertengkaran pertama kalinya bersama seorang gadis.

“Tidak. Kalian bisa mengusahakan untuk membuka pendaftaran di lain hari! Pokoknya aku tak mau menerima gadis ini!”

Rae Woo mengerutkan dahinya sebentar dan menatap marah wajah Kris. Ia sudah mengantri sangat panjang sejak sore hingga sekarang dan dengan seenak mulutnya saja ia bisa dianggap gugur? Sungguh ia baru menyadari sesulit ini menjadi seorang pengasuh. Rasanya ia seperti sedang mengalami audisi acara menyanyi!

“Tunggu. Aku sudah mengantri dari tadi untuk mendapatkan pekerjaan ini dan sekarang kau mengusirku? Yak! Apa hakmu! Lagipula kau ini siapa? Sehingga bisa menentukan aku pantas bekerja atau tidak? Lebih baik kau keluarkan anakmu dan biarkan ia melihatku! Siapa tahu ia suka denganku?” Mulut Rae Woo sudah mengeluarkan bisanya dan tentu saja kata-kata itu menohok Kris. Penghinaan.

“Maaf Nona, tapi tak ada anak kecil yang akan anda asuh di sini. Anda sudah membaca selebarannya bukan?” Pak Lee bertanya dengan sopan. Rae Woo mengangguk.

“Tuan muda kami ini yang akan anda asuh Nona.”

Dua.

Dan…

Detik berikutnya Rae Woo hanya bisa membungkukan tubuhnya dan sebuah suara tawa kemenangan terdengar dari sana. Astaga! Pria sebesar ia masih membutuhkan pengasuh? Jangan bercanda! Rae Woo sungguh tak habis pikir.

“Lihat kan? Ia bahkan tak berkompeten untuk menjadi seorang pengasuh. Batalkan.” Kris segera berdiri karena merasa terhina dan hendak melangkah menuju tangga sebelum suara Shin Young terdengar.

“Nona. Selamat. Anda akan menjadi pengasuh Tuan Muda mulai besok.” Shin Young menjabat tangan Rae Woo ketika gadis itu berhasil menghentikan tawanya.

Ahjumma apa hak mu?” Tanya Kris tak percaya.

“MaafTuan. Anda tak bisa menolaknya.” Shin Young tersenyum dan menarik Rae Woo mendekat kepada Kris.

“Mulai besok anda akan mendapatkan pengasuh baru Tuan.”

Rae Woo hanya dapat membuka mulutnya lebar tak percaya namun dengan cepat ia bersikap normal dan berdeham. Demi ibunya ia akan melakukan apapun.

“Perkenalkan. Namaku Jung Rae Woo, usiaku 22 tahun, dan aku akan menjadi pengasuhmu mulai besok.” Rae Woo menjulurkan tangannya hendak menjabat tangan Kris tetapi dengan cepat Kris segera membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah lain. Meninggalkan Rae Woo, Shin Young dan Pak Lee di sana.

“Selamat Nona. Besok kami menunggu anda pukul enam pagi di rumah ini dan akan menjelaskan semua hal yang perlu anda ketahui. Semoga anda di berkati.” Kata Pak Lee yang kemudian menjabat tangan Rae Woo.

–To Be Continued–

Author’s Note: Hola! This is me! Dreamcreampiggy! Ini adalah FF Chapter keduaku setelah “Saranghaeyo Ahjussi” yang Thanks God ternyata lumayan banyak peminatnyadan akhirnya tamat. Ngomong-ngomong cerita itu, Terima Kasih untuk siapapun yang sudah baca dan comment, like atau tetap menjadi Silent Readers. Btw, FF ini masih dengan Kris yang sebagai Author aku merasa belum puas menggali wataknya yang un-pre-dict-able. Maksudku Kris itu bisa jadi apapun kan? Bad Boy, Orang yang bijak dan banyak lagi… Jadi mudah-mudahan di FF ini semua yang baca akan suka, banyak yang comment dan RCL! Tolong ya T.T Huhuhu~ Thanks for reading guys and let your soul shouted their voice by fill the comment box below~ Kalian kan masih harus tahu banyak lagi tentang latar belakang Kris dan semua hal tentang cerita ini jadi jangan bosan nunggu kelanjutannya ya^^

Oiya please kindly check my blog! Imagine Piggy! Just Click here.

*Psss, aku belum akan lanjutin part berikutnya kalau aku belum lihat minimal sepuluh comment… Gimana? Hahaha ditunggu ya~

-XOXO Dreamcreampiggy-

28 thoughts on ““Love Care” – Chapter 1

  1. wkwkwkwkwkwk,,
    kasian si rae woo seharian sial mulu,,bc yg bagian bubble tea gg tw knp,,yg kebayang si thehun,,kkkkk
    qra2 gmn nasib rae woo jd pengasuhny kris y?
    mumpung ud ada part 2 ny,,aqw lsg lnjut bc deh,,annyeong,,keep writing nd hwaiting chingu,,

  2. Ckck udahlah bang Kris. Biarkan Rae Woo yg jadi pengasuhmu!
    Oh ya aku udh baca cerita ini tapi belom sempet comment. Cerita bagus author-ssi. Next chapnya ditunggu yo!

  3. Duhhh jam 5 pagi buka ini.. emu ini. Lalu kubaca dan aku……

    NGAKAKKKK SEJADI JADINYA!!!!!!😄

    Yahhh apa kata dunia klo cool city boy ky kris membutuhkan seorang pengasuh. Da. n gilanya banyak yang daftar O,o. Dan isinya kayanya random banget ya eon?

    Ini sumpah eon ff ini adalah matahari penyemangat buatku di jam 5 pagi yang entah kenapa masi gelap gini. Betewe, anak SD yang bolos sekolah itu Sehun kan? #ngaco #soktau. Habisnya ciri-cirinya itu lohh “berwajah datar namun tampan” kkkkk ><

    Duh, aku selalu suka ff karya eonni :3 dilanjut ya eon… cepetan tapi, ditunggu nih!

  4. Aku ketawa ngakak baca ini…. Ya ampun, tema ceritanya unik walau udah banyak banget yang pakai tema ini di banyak novel bahkan drama. Tapi cara penyampainnya tetap berbeda dan masing-masing cerita punya ciri khas termasuk yang ini. Cerita ini pakai gaya bahasa sendiri ya? Kelihatan, ceritanya ngalir alami dan justru itu bagus. Tulisan dan penulisnya punya ciri khas karena pakai gaya bahasa sendiri dan pasti lebih nyaman juga nulisnya. Namun aku masih menemukan ada beberapa kata yang tidak sesuai EYD, seperti: “menyimpratkan” seharusnya “mencipratkan”, ok? Untuk ke depannya aku harap lebih diperhatikan. Kelihatannya sepele tapi hal itu juga menentukan kenyamanan pembaca. Hehehe, maaf ya aku cerewet jadi kepanjangan. Aku tunggu episode selanjutnya ya? Semangat!

  5. Waaw setuju bgt ttg watak kris yg unpredictable… baru kali ini bc ff mengasuh anal usia 22thn -.- Kereeenn,,, lanjutkn thor😉 salam kenal ya…🙂

  6. Hallo thor, aku reader baru ni wah ceritanya kerennn, kalo bs tlong dilnjutkn n please kalo bs lnsung sampe the end biar nd trsiksa penasaran hehehehhh gomawoo

  7. aku suka dg karakter Rae Woo, pantang menyerah dn penuh dg hayalan hhaaha.. smoga hari” Rae Woo mjdi pengasuh Kris menyenangan.

    dtnggu next part’a,fighting!!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s