Nice Guy (Chapter 1)

wpid-photogrid_1406974984575

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 1)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han (Lu Han of EXO)
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baekhyun of EXO)
Support Cast :
Kim Jong In (Kai of EXO)
Oh Sehoon (Se Hun of EXO)
Kang Jeo Rin(OC)
Shin Min Young(OC)
Cho Yeon-sa (OC)
EXO members
Length : Chaptered
Genre : Romance, School Life, Family, Friendship
Rating : PG-17
Disclaimer : This story is pure mine. Don’t plagiat and copy paste.

 

“Kita putus.” Seorang gadis merasa waktu berhenti saat dua kata itu keluar dari mulut kekasihnya. Suasana kafe yang ramai menjadi hening untuknya. Ia menatap kosong pria yang duduk di hadapannya. Dia tidak percaya. Ini seperti mimpi. Tidak. Dia bahkan takut memimpikan itu. Dia sangat menyukai pria yang berstatus sebagai kekasihnya selama empat tahun ini.
“Ji Seul,” Pria itu bersuara.
“Apa?” Ji Seul tersadar. Ini bukan mimpi. Pria berambut pirang itu kembali bersuara.
“Aku mau kita putus.”
“Kris..” Bukan putus yang ingin Jiseul dengar saat pria itu kembali. Jiseul tidak merasa ada yang salah dengan hubungan mereka. Semua baik-baik saja. Mereka tetap berkomunikasi selama Kris melanjutkan studinya di Kanada.
“Aku tidak menyukaimu lagi.” Ucap pria yang tiga tahun lebih tua dari Jiseul.
“Oppa,” Kris menatap Jiseul tajam. Ia tidak suka dipanggil dengan oppa. Terdengar menjijikkan di telinganya. Kecuali untuk wanita itu.
“Aku tidak mau putus!” Suara kuat Jiseul menarik perhatian pengunjung kafe.
“Pelankan suaramu,” Kris menggeram.
“Op, Kris, aku tidak mau putus.” Mata Jiseul berkaca-kaca.
“Jiseul, maafkan aku. Aku sudah menganggap hubungan kita berakhir sejak aku tinggal di Kanada selama tiga bulan.” Ada penyesalan di nada suara Kris.
“Aku menemukan wanita yang kucintai di sana. Aku akan menikahinya.” Sambung Kris. Air mata Jiseul mengalir. Apa selama ini Kris selingkuh?
“Maafkan aku.” Kris beranjak dari duduknya.
“Oppa,” Lirih Jiseul. Dia tidak mau berpisah dengan pria itu.
“Oppa!” Jiseul mengejar Kris sebelum pria itu keluar dari cafe.
“Kris Wu!” Jiseul menggenggam pergelangan tangan Kris, membuat Kris berhenti.
“Kau tidak boleh memutuskanku!” Teriak Jiseul. Mereka benar-benar diperhatikan sekarang. Para pengunjung kafe seperti menonton drama.
“Lepas, Jiseul.” Suara Kris datar. Sikap Jiseul membuatnya malu. Kris selalu terlihat cool di manapun ia berada.
“Aku tidak mau putus! Aku tidak mau! Aku mencintaimu, Kris.” Kris terhenyak. Ia menatap Jiseul dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku tidak mencintaimu, Jiseul. Maaf.” Kris melepas genggaman tangan Jiseul. Jiseul menundukkan kepalanya. Hubungannya dengan Kris berakhir. Sebenarnya Kris tidak sanggup melihat Jiseul menangis. Bagaimanapun ia pernah bersama gadis itu walaupun sebentar. Hubungan jarak jauh membuat perasaan Kris pada Jiseul hilang. Ia berharap Jiseul menemukan pria yang lebih baik darinya.

—————

Choi Jiseul berjalan pelan di trotoar. Dia belum berniat pulang. Gadis berusia tujuh belas tahun itu masih belum percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya hari ini. Choi Jiseul diputuskan kekasihnya di kafe, tempat Kris menyatakan perasaannya. Jiseul menghela nafas. Kenapa dia tidak rela diputuskan Kris? Jelas-jelas pria itu selingkuh. Seharusnya ia memukul Kris tadi bukan mengemis, meminta Kris untuk tidak memutuskannya. Bagaimana aku melupakan Kris? Batin Jiseul. Ia melihat tempat di mana kakinya berhenti. Tempat yang serba hijau. Taman kota. Mungkin Jiseul bisa menenangkan dirinya di sini. Jiseul berjalan menuju bangku taman dan duduk di sana.
“Kris,” Ucap Jiseul pelan. Apa dia sanggup menghapus Kris dari hidupnya? Senior yang sangat ia sukai? Ditambah Kris adalah kekasih pertamanya. Benar kata orang-orang. Perasaan bisa berubah. Baiklah. Kau mengkhianatiku, Kris. Aku harus melupakanmu. Batin Jiseul semangat.
“Oppa, bukankah itu gadis yang diputuskan kekasihnya di kafe?” Pendengaran Jiseul yang tajam menangkap seseorang membicarakannya. Jiseul tidak mungkin salah. Ucapan itu pasti ditujukan padanya.
“Kau benar.” Suara lembut seorang laki-laki menyahut.
“Kasihan sekali dia.” Hati Jiseul memanas. Dia bukan orang menyedihkan yang harus dikasihani.
“Sudahlah. Jangan pedulikan dia. Ada yang kuinginkan darimu.” Jiseul bergidik ngeri mendengar kalimat terakhir pria itu. Dia tidak tahu, ia merasa ada makna terselubung dalam ucapannya.
“Tapi op—“ Kalimat terputus gadis itu membuat Jiseul menoleh ke kiri. Matanya membulat melihat pemandangan yang ia saksikan. Rahangnya seperti lepas. Dua orang yang baru saja membicarakannya sedang berciuman. Di taman kota?! Apa yang mereka pikirkan? Jiseul semakin shock karena gadis itu mengenakan seragam JHS-nya. Mereka lebih mudah darinya tapi sudah berani berbuat mesum di tempat umum! Dan yang lebih parah, di bangku yang sama dengannya. Benar-benar.
“Ya!!” Teriak Jiseul, tapi tidak memberi pengaruh pada mereka. Ciuman mereka semakin memanas. Mata Jiseul seperti mau keluar melihat tangan di laki-laki mengeksplor tubuh si gadis.
“Ya! Berhenti!” Si gadis merespon. Dia menjauhkan tubuhnya dari si pria. Jiseul bisa melihat rona merah di pipi gadis itu. Malu atau kesal?
“Ini karena kau membicarakan gadis itu. Dia jadi mengganggu kita.” Kalau mungkin, telinga dan hidung Jiseul pasti mengeluarkan asap karena ucapan laki-laki itu.
“Ya! Dasar anak tidak tahu malu!!” Jiseul meledak. Ia marah, merasa dipermainkan oleh anak yang lebih muda darinya.
“Kalian masih kecil. Bisa-bisanya kalian berbuat mesum di tempat umum!” Jiseul melihat mereka bergantian. Untuk beberapa saat, dia fokus melihat si laki-laki. Tatapan apa itu? Si ‘young man’ menatapnya, polos? Seperti apa yang ia lakukan tidak salah.
“Kau!” Jiseul menunjuk si gadis.
“Bisa-bisanya kau membiarkan tubuhnya disentuh laki-laki sepertinya. Jaga harga dirimu!” Si laki-laki memutar bola matanya. Sepertinya gadis itu akan memberikan nasihat tidak berguna. Batinnya.
“Kau kolot sekali.” Suara pria itu pelan tapi masih bisa didengar Jiseul.
“Apa?!” Dia menatap pria itu tajam. Detik ini, Jiseul merasa Tuhan tidak adil. Kenapa laki-laki itu harus punya wajah yang cute? Tidak cocok dengan kelakuannya.
“Noona, kau tahu? Kau kolot sekali.” Dia mencemooh Jiseul dilengkapi dengan tatapan mengejeknya.
“Ya!!”
“Aku jadi mengerti kenapa kau diputuskan kekasihmu.” Jiseul mengepalkan tangannya. Mulut laki-laki itu tajam sekali.
“Aku yakin dia tidak pernah menciummu. Kau mau kuajari?” Laki-laki itu menyeringai.
“Anak kecil,” Jiseul menggertakkan giginya.
“Kau mau mati?!!” Dengan suara melengking keluar dari mulut Jiseul, si laki-laki menarik si gadis menjauh dari Jiseul.
“Dasar gila! Gadis jadi-jadian!” Teriak laki-laki itu.
“Argh! Ini semua karenamu, Kris! Aku diejek anak kecil. Aku membencimu!”

——————

Ini hari kedua tahun ajaran baru. Jiseul berjalan di koridor sekolah tidak semangat. Dia ingin bolos seperti semalam. Tapi hari ini proses belajar mengajar dimulai. Jiseul menghela nafas sebelum memasuki kelas barunya. Dia harus menikmati tahun terakhirnya di SHS. Jiseul menuju meja ketiga baris pertama dari pintu. Dia suka tempat duduk yang merapat ke dinding. Jiseul melihat murid-murid di kelasnya. Hanya beberapa orang yang wajahnya familiar. Setiap pergantian kelas, muridnya juga diganti. Jiseul mengambil handphonenya yang bergetar dari saku blazernya. Wajahnya berubah begitu melihat wallpaper handphonenya. Fotonya bersama Kris. Ia memandangi foto itu sampai sebuah pesan menyadarkannya.
From: Yeon-sa
Kita sekelas lagi.

Jiseul mengangkat kepalanya dan mendapati Yeon-sa yang berdiri di ambang pintu bersama seorang pria. Ia tersenyum pada Yeon-sa. Dia benar-benar sebangku dengan kekasih barunya. Batin Jiseul. Bel sekolah berbunyi. Jiseul melihat kursi di sebelah kirinya. Kosong. Apa dia tidak punya teman sebangku?
“Teman-teman!” Seorang pria ber-eyeliner menarik perhatian seluruh murid termasuk Jiseul.
“Selamat pagi!” Sapa pria itu lalu tersenyum, membuat para gadis di kelas itu terpesona kecuali Jiseul dan teman wanita pria itu.
“Karena guru belum masuk, aku ingin memperkenalkan diri pada kalian.”
“Kami sudah tahu dirimu, Oppa!” Suara ala fangirls itu membuat si pria tersenyum tipis.
“Bukan itu. Aku ingin memperkenalkan diri sebagai ketua kelas di kelas XII-A. Namaku Byun Baek-hyun. Salam kenal.” Sikap Baek-hyun hanya membuat fansnya semakin mengaguminya. Ya, Baek-hyun adalah salah satu pria populer di sekolah Jiseul, Seoul High School. Tapi Jiseul tidak tahu itu. Ia tidak peduli dengan pria-pria populer dan kaya di sekolahnya. Jika Yeon-sa tidak menjalin hubungan dengan Chanyeol, dia tidak akan tahu kalau Chanyeol populer. Jiseul mengambil alat tulis dan buku dari tasnya. Saat itu, ia merasakan ada orang yang duduk di sebelahnya. Ia menoleh. Seorang laki-laki berambut blonde dengan wajah cute menatap malas Baekhyun. Aku pernah melihatnya. Matanya membulat begitu kejadian semalam melintas di kepalanya.
“You!!”

TBC…

Heem, bagaimana menurut kalian? Leave your comment guys.

6 thoughts on “Nice Guy (Chapter 1)

  1. Annyeong^^
    Aku reader baru, salam kenal^^
    Aku suka ff ini, alurnya keren dan menarik^^
    Oh ya, yg ciuman di taman kota itu Luhankan? Terus yg duduk di samping Jiseul itu Luhan jgakan?
    Next chapter fighting thor^^
    Aku tunggu ya next chapter^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s