Nice Guy (Chapter 2)

luhan-poster-request-copy1

 

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 2)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han (Luhan of EXO)
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Cast :
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
Kang Jeo-rin (OC)
Shin Min-young (OC)
Cho Yeon-sa OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission.

Chapter 1 || Chapter 2

“You!!” Suara Jiseul membuat perhatian murid-murid terpusat padanya. Laki-laki itu menoleh pada Jiseul, mengedipkan matanya beberapa kali berusaha mengingat Jiseul. Ia merasa pernah bertemu dengan gadis itu.
“Ah, gadis jadi-jadian.” Ucapnya datar.
“Tidak usah sok berbahasa Inggris hanya karena kekasihmu orang bule.” Sambungnya.
“Ouups.. Maaf. Mantan kekasihmu. Hahaha…” Tawanya membahana di kelas. Anehnya, itu membuat siswi di kelasnya terpesona.
“Ketua!” Jiseul mengangkat tangannya.
“Usir anak kecil ini. Dia pasti kabur dari kelasnya karena tidak sabar masuk SMA.” Semua orang tercengang mendengar Jiseul. Tak lama terdengar bisikan dari siswi di kelasnya.
“Apa dia gila?”
“Aku tahu dia gadis biasa, tapi bukan berarti dia tidak mengenal Lu Han.”
“Dasar gadis aneh.” Jiseul mengabaikan bisikan gadis-gadis centil di kelasnya. Dia terus menatap Baekhyun seolah menyuruh Baekhyun untuk segera mengusir laki-laki yang duduk di sebelahnya.
“Maaf, tapi dia murid di kelas ini. Namanya Lu Han.” Jiseul melihat Lu Han. ‘Lu Han?’ Entah kenapa Lu Han tidak nyaman dipandangi Jiseul tapi dia tidak menampakkan itu.
“Aku tahu aku tampan. Tapi, maaf. Kau bukan tipeku.” Ucapan Lu Han menyadarkan Jiseul . Ia bangkit dari duduknya.
“Jangan tertipu dengannya. Dia pasti mencuri seragam kakaknya.” Lagi-lagi ucapan Jiseul membuat murid-murid di kelas itu tercengang. Apa yang salah dengan gadis itu? Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum tipis.
“Dia teman sekelas kita. Dia sudah bersekolah di sini selama dua tahun. Kalau kau tidak percaya, kau bisa buka blog sekolah. Cari nama Lu Han.” Lu Han tersenyum miring melihat Jiseul yang kembali duduk di bangkunya.
“Dasar makhluk jadi-jadian.” Jiseul menatap Lu Han tajam.
“Apa? Aku tidak takut dengan tatapanmu.. noona.” Ejek Lu Han.
“Pindah. Aku tidak mau sebangku denganmu.” Ucap Jiseul tanpa melihat Lu Han.
“Siapa kau berani mengaturku?” Darah Jiseul mendidih. Dia mengepalkan tangannya.
“Kau—“
“Morning, class.” Niat Jiseul untuk membalas ucapan Lu Han tidak terwujud karena gurunya sudah masuk. ‘God, kenapa aku harus sebangku dengan orang ini?’
==================
“Hey, brothers! Long time no see.” Ucap Kai begitu masuk ke ruangan khusus milik EXO. Ruangan itu didesain seperti apartemen mewah. Bagaimana mereka membuatnya? Tidak ada yang mustahil bagi mereka. Sekolah ini milik keluarga Kai.
“Bagaimana liburan kalian?” Tanya Kai dengan wajah cerahnya.
“Lihat di blog EXO.” Sahut Sehun datar.
“Aku mau dengar langsung dari kalian.” Balas Kai.
“Aku hampir berhasil membuat eyeliner yang tahan dua puluh empat jam.” Kata Baekhyun antusias. Kai memutar bola matanya. ‘Dasar maniak.’
“Aku sudah jadian dengan Cho Yeon-sa.” Ujar Chanyeol senang.
“Congratulations!” Koor anak EXO.
“Aku—“
“Aku tahu apa yang kalian berdua lakukan.” Kai menatap Suho dan Dyo bergantian dengan ekspresi bangganya.
“Kau pasti bermain CEO-CEOan di kantor ayahmu.” Suho menatap tajam Kai yang tersenyum polos padanya.
“Aku bukan bermain, aku bekerja di sana.” Suho tidak terima.
“Oke, aku mengerti. Maaf.” Suho mengangguk.
“Sensitif sekali. Aku kan hanya bercanda.” Kai beralih pada Dyo sebelum Suho sempat membalas ucapannya.
“Hyung pasti berhasil menciptakan resep baru.”
“Eem.” Balas Dyo. Kai pasti ada maunya kalau sudah memanggilnya ‘hyung’.
“Hyung tolong buatkan kue spesial.” Betul kan?
“Besok anniversary ketiga hubunganku dan Jeo Rin. Aku ingin memberinya kejutan.”
“Aku sibuk.” Kai mengerucutkan bibirnya.
“Dyo hyung, aku mohon. Jeo Rin sangat menyukai makanan-makanan yang kau buat. Dia pasti bahagia sekali besok.” Kai mengeluarkan puppy eyes andalannya, membuat Dyo tidak tahan, tidak tahan untuk mengabulkan permintaan Kai.
“Baiklah, baiklah. Jangan pasang wajah seperti itu di depanku. Aku bukan Jeorin.” Kai tersenyum senang. Ia beralih pada Sehun.
“Hei, bagaimana denganmu?” Sehun menatap Kai sebal. Semua temannya mengalami liburan yang menyenangkan. Apalagi Kai. Pria itu menghabiskan liburan sekolahnya dengan Jeo Rin di Pulau Jeju.
“Tidak usah dijawab. Aku akan lihat di blog EXO, magnae.”
“Menyebalkan. Min Young benar-benar menyebalkan.” Kai menatap Sehun prihatin. Tapi di dalam hati dia kasihan pada Min Young. ‘Sehun sedikit childish, Min Young tidak mengalami kesulitan menghadapi itu. Sehun yang temperamen, aku tidak tahu. Semoga ini tidak ada kaitannya dengan Lu Han.’
“Jeo Rin’s home.” Suara Lu Han mengalihkan perhatian anak EXO. Mereka melihat Lu Han memasuki ruangan diikuti oleh Jeo Rin.
“Kau mengerikan, Kai.” Ucap Dyo. Sehun geleng-geleng kepala melihat cara berjalan Jeo Rin.
“Dasar gila. Kau membuat adikku sakit.” Baekhyun menghampiri Jeo Rin. Dia melihat Jeo Rin khawatir.
“Oppa, aku tidak apa-apa.” Jeo Rin menghampiri Kai, duduk di sebelah pria itu.
“Baby, seharusnya kita bersama-sama kemari tadi.” Kai mencium puncak kepala Jeo Rin.
“Kasihan Jeo Rin. Kau harus bisa mengendalikan nafsumu, Kkamjong.” Lu Han buka suara. ‘Beruntung sekali Kai punya kekasih seperti Jeo Rin. Mungkin kalau aku masih bersama Min Young, hubungan kami bisa seperti Kai dan Jeo Rin.’ ‘ Itu karena kau bodoh. Baru lihat wanita sexy langsung tergoda.’ Lu Han menggelengkan kepalanya, menghentikan dua sisi dirinya yang berargumen.
“Aku tidak nafsu, aku mencintai Jeo Rin.” Kai membela diri.
“Cinta bukan berarti bercin—“
“Hentikan! Aku mau tidur.” Ucap Jeo Rin dengan mata terpejam.
“Lihat. Jeo Rin ingin tidur di pelukanku.” Tidak ada yang bersuara setelah itu. EXO tahu seperti apa gaya pacaran Kai. Skinship is important.
“Sehun!” Pintu ruangan EXO terbuka dengan keras. Lu Han langsung berdiri begitu melihat siapa yang membuka pintu.
“Hei, Young. Apa kabar?” Lu Han memeluk Min Young lalu mengecup pipi gadis itu. Membuat orang-orang yang berada di ruangan itu menahan nafas kecuali Jeo Rin yang hampir tidur. Apalagi Sehun, matanya seperti mau keluar.
“Tsk!” Sehun beranjak dari duduknya, melewati Lu Han dan Min Young begitu saja.
“Kau mau kembali denganku?” Tanya Lu Han polos mengabaikan ekspresi marah Min Young.
“Aku akan memberi pelajaran padamu, Lu Han.” Kata Min Young sebelum mengejar Sehun. Lu Han kembali ke tempat duduknya sambil terkekeh. ‘Cuma Min Young yang berani menolakku.’
“Kau masih menyukai Min Young?” Tanya Chanyeol.
“Menurutmu?”
“Aku tidak percaya aku punya dua teman gila seperti kalian. Hah! Eyeliner ku rusak.” Baekhyun frustasi.
“Aku hanya ingin menggoda Sehun. Dia mudah sekali panas. Tapi kembali dengan Min Young bukan ide yang buruk.” Dyo menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan Lu Han. Ia berpikir, Lu Han tidak pernah menganggap serius tindakannya. Oh, Lu Han sudah seperti itu sejak ia mengenal pria itu. Childish? Nah, itu juga.
“Kau tahu seperti apa Sehun. Aissh.. Lu Han, kau bisa menghancurkan hubungan mereka.” Suho memperingatkan Lu Han.
“Tenang, brothers. Aku yakin Min Young bisa menenangkan Sehun.” Sahut Lu Han santai.
“Ngomong-ngomong, teman sebangkumu lucu sekali.” Baekhyun ingin mengucapkan itu sejak Lu Han masuk ke ruangan EXO.
“Dia wanita gila.” Balas Lu Han enteng.
“Gila?” Baekhyun menatap penuh tanya pada Lu Han.
“Dia baru diputuskan kekasihnya semalam.” Lu Han tertawa kecil.
“Kau mengenalnya?” Tanya Dyo. Dia cukup tertarik dengan Jiseul, bukan dalam arti suka. Baru Jiseul gadis yang tidak mengenal Lu Han.
“Tidak penting mengenal orang sepertinya. Tapi dia hebat bisa pacaran dengan bule.” Kata Lu Han remeh. Anggota EXO membulatkan mulut mereka.
“Tidak heran, dia punya tubuh yang indah.” Komentar Suho.
“Sayangnya dia memakai seragam yang jauh dari kata normal untuk siswi di sekolah ini.” Kalau Kai tidak sedang menidurkan Jeo Rin, dia pasti ikut berkomentar.
“Killer body?? Biasa saja. Aku bisa mendapatkan seratus gadis sepertinya dalam satu hari.” Ujar Lu Han sombong. Kalau sudah seperti ini, anggota EXO malas menanggapi Lu Han.
“Namanya siapa?” Ucap Baekhyun dengan rona merah di pipinya.
“Byun, kau menyukai gadis sepertinya?” Tanya Lu Han tidak percaya. Baekhyun menggaruk pipinya.
“Hanya penasaran.”
“Namanya Choi Ji-seul. Dia teman Yeon-sa. Aku bisa membantumu, Baek.” Chanyeol semangat. Dia ingin semua anggota EXO punya kekasih agar mereka tidak diikuti wanita yang tidak mereka kenal ke mana pun mereka pergi.
“Bukan seperti itu, Yeollie.” Baekhyun berusaha menyembunyikan faktanya yang baru muncul hari ini.
“Tapi, sepertinya dia tidak mengenal EXO.” Kai buka suara setelah yakin Jeo Rin sudah tidur.
“Aku yakin dia tidak kenal EXO.” Kai menjentikkan jarinya tanda ia setuju dengan Dyo.
“Kita harus membuat dia menyesal karena tidak mengenal EXO.” Ucap Kai yang tidak ditanggapi Chanyeol, Dyo, Suho, dan Baekhyun. Mereka punya alasan untuk itu. Sedangkan Lu Han, dia masih memproses ucapan Kai.
“Baiklah. Aku rasa hanya kau yang mau, Lu Han. Kalau kau tidak mau, aku bisa melakukannya. Ouch!” Kai mengaduh merasakan sakit di perutnya. Jeo Rin baru saja mencubitnya.
“Baby, kau belum tidur?” Ucap Kai cemas. Ia takut Jeo Rin mendengar ucapannya.
“Jangan macam-macam, Kim Jong-in.” Kata Jeo Rin tanpa membuka matanya.
“Baby, aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya sayang dan cinta padamu.” Kai mengelus rambut Jeo Rin lembut.
“Aku tahu.” Jeo Rin membuka matanya mendapati Kai yang menatapnya penuh cinta. ‘Oke. Siap-siap melihat adegan romantis ala Kim Childish Kai.’ Lu Han memutar matanya dibalik kepalanya.
“Aku sangat mencintaimu, Kang Jeo-rin.” Kai mencium kening Jeo Rin.
“Aku rasa kalian lebih membutuhkan ruangan ini.” Kata Baekhyun pelan tapi sangat ampuh untuk menghentikan Kai yang hendak mencium Jeo Rin.
“Kau seperti tidak pernah melihatku mencium Jeo Rin saja.” Ucap Kai kesal. Dia membenarkan posisi duduknya. Tidak memeluk Jeo Rin lagi.
“Ehem,” Jeo Rin berdeham, entah untuk memperingatkan Kai atau karena ia merasa malu.
“Lupakan yang kalian lihat tadi.” ‘Masalahnya kami sudah terbiasa melihat itu, Jeo Rin.’ Batin Lu Han menyahut.
“Dan lupakan apa yang dikatakan Jongin tadi, tentang Choi Ji-seul.” Dari ekspresi Kai, EXO tahu pria itu hendak protes.
“Dia tidak punya masalah apa pun dengan kalian, jadi jangan melakukan hal-hal yang konyol padanya.” Tidak ada yang mengomentari ucapan Jeo Rin. ‘Tapi dia bermasalah denganku.’ Lu Han menyeringai. Tidak ada satu orang pun yang menyadarinya. ‘Choi Ji-seul, kita lihat apa yang bisa kulakukan padamu.’
“Lu Han, kau serius ingin pacaran dengan Jung Se-jin?” Chanyeol membuka topik baru walaupun ia tidak menyukai nona Sejin ini.
“Tentu saja. Kalau bisa kami jadian hari ini.” Ucap Lu Han, tapi itu tidak mungkin. Sudah dua bulan ia berusaha mendekati Sejin tapi tidak ada hasilnya. Itu kenapa Chanyeol tidak menyukai Sejin. Menurutnya, gadis itu jual mahal. Tapi, demi misinya, Chanyeol akan memberi tahu sesuatu yang membuat Lu Han senang.
“Aku punya kabar baik untukmu. Dia selalu ke club kakakku yang ada di Gangnam setiap Selasa dan Sabtu.” Itu membuat Lu Han senang tapi hanya sebentar.
“Aku tidak bisa ke club malam ini.”
“Kenapa?” Tanya Kai. Hal yang sangat mustahil, club adalah tempat yang sangat disukai Lu Han.
“Aku harus menghadiri acara makan malam penting ayahku dengan temannya. Kalau aku tidak ikut, aku akan ‘ditendang’ dari rumah.” Ucap Lu Han frustasi. Kenapa ayahnya tidak seperti ibunya yang selalu memberikan apa yang ia inginkan? Ia hanya ingin mobil baru, tapi ayahnya malah membekukan semua fasilitasnya. ‘Berhenti berhura-hura, Lu Han.’ Suara itu datang entah dari mana. ‘Ayahku kolot sekali.’ Dia pasti sudah merasakan neraka dunia kalau tidak ada teman-temannya.
“Kau harus menuruti ayahmu, Lu Han. Hanya dengan itu kau bisa membayar hutangmu padaku.” Suho mengingatkan Lu Han. Ia bisa mengerti kenapa fasilitas Lu Han dibekukan. Orang tua mana yang tidak stress kalau anaknya menghabiskan tiga juta won dalam satu hari?
“Aku ingat, Suho. Aku pasti langsung membayarnya kalau fasilitasku sudah kembali.” Sahut Lu Han malas.

====================

“Akhirnya kau pulang, nak.” Nyonya Choi menyambut anaknya. Ia sudah lama menunggu Jiseul di teras rumah mereka.
“Eomma menungguku?” Jiseul heran. Tidak biasanya Nyonya Choi menunggu Jiseul. Nyonya Choi membimbing Jiseul masuk ke dalam rumah. Menaiki tangga, menuju kamar Jiseul.
“Cepat mandi, sayang. Sebentar lagi teman appa datang.” Nyonya Choi melepaskan tas Jiseul dari punggungnya.
“Teman appa?” Ini pertama kali Appa mengundang temannya ke rumah.
“Nanti eomma jelaskan.” Nyonya Choi mendorong Jiseul ke dalam kamar mandi. Sementara Jiseul mandi, Nyonya Choi memilih dress untuk dipakai Jiseul. Semua dress yang ada di lemari Jiseul indah. Putrinya memiliki selera fashion yang bagus, Jiseul selalu mengikuti perkembangan dunia fashion. Tapi yang Nyonya Choi tidak mengerti, penampilan Jiseul di sekolah berbeda dengan penampilannya sehari-hari. Siswi di Seoul High School memakai seragam yang pas di tubuh atau bahkan sempit untuk memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Nyonya Choi menggeleng. Hanya Jiseul yang tahu kenapa ia memakai seragam longgar ke sekolah. Nyonya mengambil dress berwarna pink. Ia tersenyum begitu melihat Jiseul keluar dari kamar mandi.
“Pakai, sayang.”
“Eomma, sebenarnya ada apa?” Jiseul mengambil dress dari tangan ibunya ragu.
“Appa mengundang temannya untuk makan malam di rumah. Pakai make up sedikit, Jiseul.” Lagi-lagi Nyonya Choi membuat Jiseul bingung. Hanya makan malam, kenapa ia harus dandan?
“Kau harus tampil cantik.” Nyonya Choi menghela nafas melihat wajah bingung anaknya.
“Sayang, ini bukan sekedar makan malam. Makan malam ini membicarakan.. perjodohanmu dengan anak teman appa.”
“Apa?!” Reaksi Jiseul sesuai dengan dugaan Nyonya Choi.
“Kau dijodohkan, sayang.” Ulang Nyonya Choi.
“Dijodohkan?” Suara Jiseul pelan. Ia sedang mencerna apa yang dikatakan ibunya. ‘Dijodohkan? Aku dijodohkan?’
“Kau sudah putus dengan Kris kan? Jadi eomma pikir tidak masalah.”
“Aku tidak mau, eomma.” Tolak Jiseul mentah.
“Jiseul,”
“Kenapa kalian tiba-tiba ingin menjodohkanku? Kalau kalian menjodohkanku karena aku putus dengan Kris, aku bisa mencari kekasih baru. Tidak perlu sampai dijodohkan.” Ucapan itu keluar karena Jiseul tidak mengerti kenapa orang tuanya mengatur perjodohan untuknya.
“Jiseul, bukan karena itu. Kami tidak mungkin menjodohkanmu hanya karena kau putus dengan Kris. Ini lebih dari itu.” Jiseul hanya menatap eommanya.
“Kami juga tidak mau menjodohkanmu, Jiseul. Tapi, kami tidak punya pilihan.” Ucap Nyonya Choi lembut.
“Apa maksud eomma?”
“Kau masih ingat Tuan Lu?”
“Lu ajjushi?” Nyonya Choi mengangguk. Jiseul ingat. Ia pernah bertemu dengan pria berdarah Cina itu saat berkunjung ke perusahaan appanya. Mungkin empat bulan yang lalu.
“Kau tahu apa yang sudah dia lakukan pada keluarga kita?” Jiseul menggangguk. Tuan Lu adalah orang yang menyelamatkan perusahaan appanya dari kebangkrutan.
“Ide perjodohan ini datang darinya. Dia dan appa sudah berteman sejak lama. Lu ajjushi ingin menjodohkan anaknya denganmu agar bisa menjadi keluarga dengan kita. Dia juga menyukaimu, nak. Dia mengatakan kau sangat cocok dengan anaknya.” Nyonya Choi terdiam melihat wajah kosong Jiseul. Dia terlalu senang mengenai perjodohan anaknya sampai-sampai tidak menyadari ekspresi wajah anaknya.
“Jiseul, eomma tahu kau tidak mau dijodohkan. Tapi, kau tahu, appa tidak bisa menolak. Lu ajjushi teman baik appa, dia juga sudah banyak membantu keluarga kita.” ‘Apa yang harus kulakukan? Kalau bukan karena teman appa, aku tidak akan bisa terus belajar di Seoul High School.’ Perusahaan appanya bangkrut dan mereka pasti tidak memiliki rumah. ‘Tapi, dijodohkan tidak ada dalam daftar keinginanku.’
“Jiseul,” Jiseul menghela nafas.
“Aku.. mau, eomma.” Nyonya Choi terkejut. Ia tidak menyangka Jiseul akan menerima perjodohan ini.
“Jiseul, putriku,” Nyonya Choi memeluk Jiseul.
“Terima kasih, nak. Kau menyelamatkan keluarga kita.” Nyonya Choi melepaskan pelukannya.
“Berdandanlah. Eomma akan menunggumu di bawah.” Jiseul mengangguk. Ia mendesah berat begitu ibunya keluar dari kamarnya.
“Keputusanku tidak salah kan?” Jiseul menggelengkan kepalanya. Dia tidak punya pilihan. Orang tuanya sudah berhutang, entah budi atau materi. Ini yang bisa ia lakukan untuk membantu orang tuanya. Saat ini.

============

Lu Han melihat rumah minimalis di depannya.
“Buat apa kita ke sini?” Pertanyaan itu keluar dengan sendirinya dari mulut Lu Han. Ia pikir acara makan malam penting ayahnya berlangsung di restoran mewah.
“Jangan banyak tanya. Kau hanya perlu menjaga sikapmu.” Ucap Tuan Lu tanpa melihat anaknya. Ia menekan bel rumah. Tak lama pintu terbuka menampakkan pasangan yang Lu Han yakini sebagai kerabat bisnis ayahnya. Lu Han menatap datar pertukaran salam kedua pasangan di depannya. Ia tersenyum kecil saat menyadari istri teman ayahnya melihatnya dengan.. kagum?
“Ini pasti Lu Han.”
“Annyeonghaseyo, ahjumma, ajjushi.” Lu Han membungkuk hormat.
“Aigoo, kau tampan sekali.” Lu Han tersenyum. ‘Seluruh dunia tahu aku tampan. Tidak usah mengingatkanku, ahjumma.’ Sang tuan rumah mempersilahkan keluarga Lu masuk ke rumahnya.
“Di mana Jiseul?” Tanya tuan Lu begitu berada di ruang tamu. Lu Han tidak peduli dengan suasana di dekatnya. Ia hanya melakukan apa yang dikatakan ayahnya. Jaga sikap.
“Saya akan panggilkan Jiseul sebentar.” Sebelum Nyonya Choi beranjak, Jiseul sudah muncul.
“Annyeonghaseyo, ajjushi, ahjumma.” Jiseul melakukan hal yang dilakukan Lu Han pada orang tuanya. Tangan Lu Han yang hendak mengambil tehnya, terhenti di udara. Ia menatap gadis cantik yang berdiri di dekat orang tuanya.
“Ini Jiseul?” Nyonya Lu berdiri. Ia memeluk Jiseul.
“Ahjumma sudah lama ingin bertemu denganmu.” Nyonya Lu melepaskan pelukannya. Ia menatap Lu Han.
“Nak, kenalkan dirimu.” Lu Han berdeham. Kalau bukan karena ibunya ia pasti terus menatap Jiseul. Lu Han mendekati ibunya dan Jiseul.
“Lu Han.” Lu Han mengulurkan tangannya. Jiseul tidak bergerak. Ia masih menenangkan dirinya. Ia tidak percaya kalau Lu Han adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Lu Han berdeham membuat Jiseul mengulurkan tangannya perlahan.
“Choi Jiseul.” Ucap Jiseul pelan.
“Choi Jiseul?” Lu Han mengeratkan jabatan tangannya sebelum Jiseul menarik tangannya. Ia menatap wajah Jiseul. Tak lama ia menyeringai kecil. Hanya Jiseul yang menyadari itu. Ini malam yang buruk untuk Jiseul. Benar-benar buruk.

=================

Jiseul akan selalu mengingat malam ini. Malam di mana ia resmi dijodohkan dengan Lu Han, tipe laki-laki yang sangat ia hindari. Ia berbahaya. Kesan itu ia temukan saat mereka sedang makan malam.
FLASBACK
“Ajjushi dengar kalian satu sekolah?” Tuan Lu buka suara disela makannya. ‘Dia benar-benar si gadis gila.’ Batin Lu Han masih tidak percaya. Jiseul hendak menjawab tapi Lu Han mendahuluinya.
“Ne, appa. Kami juga sekelas.” Tuan Lu tidak menduga Lu Han akan membalas ucapannya.
“Ah, bagus sekali.” Sahut Nyonya Lu.
“Jiseul, apa kau yang memasak semua makanan ini? Rasanya enak.”
“Tidak, ahjumma. Aku hanya membantu eomma sedikit.” Jiseul tersenyum canggung.
“Benar-benar menantu idaman.”
“Uhuk!!”
“Jiseul, kau baik-baik saja?” Semua orang di ruangan itu menatap Jiseul khawatir, kecuali Lu Han tentunya. Jiseul tersedak bukan karena ucapan Nyonya Lu. Tapi karena satu tangan yang berani mengelus paha kirinya. Dan sekarang tangan itu meremas pahanya. Lu Han menyeringai kecil. Tangan kanannya kembali memegang sendok.
“Eomma ingin punya menantu sepertinya?” Tanya Lu Han tidak menganggap serius ucapan ibunya.
“Dia memang menantu eomma. Sebentar lagi kalian akan menikah.”
“Bursst!!” Lu Han menyemburkan air yang baru ia minum, membuat tuan Lu menatapnya tajam karena sikap tidak sopan Lu Han di meja makan.
“Apa kalian berencana menjodohkanku dengannya?!” Lu Han menatap kedua orang tuanya, berusaha tenang.
“Ya.” Lu Han menatap ayahnya tidak percaya. Apa ayahnya serius? Apa tidak cukup pembekuan fasilitasnya selama dua bulan ini?
“Lu Han, kami ingin menjodohkanmu dengan Jiseul. Jiseul anak yang baik. Dia cocok untukmu, nak.” Lu Han mengepalkan tangannya di pahanya. Kenapa dia baru diberitahu sekarang?
“Lu Han,”
“Apa aku tidak terlalu muda untuk ini?” Lu Han memotong ucapan ibunya.
“Tidak, kau sudah cukup umur.” Ucapan tuan Lu membuat Lu Han tidak bisa berkomentar. Lu Han jadi mengerti makna jaga sikap yang dimaksud ayahnya.
“Aku tidak punya pilihan bukan?” Gumam Lu Han.
“Jadi, kita akan segera menjadi keluarga. Besok kalian menikah.” Lu Han dan Jiseul terkejut.
“Ajjushi, apa itu tidak terlalu cepat?” Tuan Lu menggeleng. Ia tersenyum lembut pada Jiseul.
“Tidak, nak. Kami sudah merencanakan semuanya. Kalian hanya melakukan pemberkatan besok.” Jiseul membuang nafasnya kasar.
“Tidak ada resepsi pernikahan?”
“Tidak. Kalian pasti sibuk di tahun terakhir kalian sekolah. Jadi, resepsi kalian diadakan setelah kalian lulus sekolah.” Terang tuan Lu.
“Aku tidak peduli apa yang kalian rencanakan selama statusku dirahasiakan. Aku ingin bicara dengan calon istriku.” Lu Han menarik Jiseul dari ruang makan. Tidak peduli dengan jaga sikap ayahnya.
“Kenapa kau menarikku kemari?!” Jiseul menarik tangannya dari genggaman Lu Han. Mereka berada di teras rumah Jiseul. Lu Han berbalik.
“Kau sudah tahu kalau kita dijodohkan?” Jiseul mengangguk.
“Kenapa kau menerima perjodohan ini?”
“Aku tidak punya pilihan.” Jawab Jiseul tanpa menatap Lu Han. Lu Han berdecak.
“Kenapa kau tidak punya pilihan?” Tanya Lu Han masih tidak puas dengan jawaban Jiseul sebelumnya.
“Kenapa kau peduli? Bagaimana denganmu? Aku yakin kau tidak mau dijodohkan.”
“Bukan urusanmu.” ‘Perempuan gila ini juga cerewet.’ Lu Han mengacak rambutnya frustrasi. Ia menatap Jiseul yang sama sekali tidak melihatnya.
“By the way, you’re hot.” Lu Han meneliti Jiseul dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Sexy.” Lu Han menjilat bibir bawahnya. Jiseul hendak masuk kembali ke rumahnya, tapi Lu Han sudah menariknya sebelum ia masuk. Jiseul membulatkan matanya. Ia meletakkan kedua tangannya di dada Lu Han, memberi jarak tubuh mereka. ‘Mungkin perjodohan ini tidak seburuk yang kupikirkan.’ Lu Han tersenyum miring. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jiseul.
“Lu.. Lu Han.” Jiseul berusaha mendorong Lu Han tapi sia-sia karena Lu Han memeluknya erat. Jiseul memejamkan matanya. Dia tidak mau ciuman pertamanya diambil oleh Lu Han. Jiseul membuka matanya karena tidak merasakan apapun di bibirnya. Tangannya malah mencengkeram kemeja Lu Han karena pria itu mencium lehernya.
“Tenang saja. Kupastikan kau akan menikmati ciuman pertamamu besok.” Lu Han menghisap leher Jiseul. Jiseul menahan nafasnya. Kenapa dia tidak bisa melakukan apa-apa? Kenapa Lu Han harus lebih kuat darinya?
“Katakan pada orang tuaku aku pulang lebih dulu.” Bisik Lu Han ditelinga Jiseul.
“Bye, honey.” Ucap Lu Han sebelum menggigit kecil telinga Jiseul. Lu Han menyeringai melihat Jiseul yang tidak berdaya di depannya. Kecupan dari Lu Han di pipinya menyadarkan Jiseul.
“Jangan rindukan sentuhanku.” Kata Lu Han lalu pergi. Jiseul memegang dadanya. Apa yang baru saja terjadi? Jiseul menggelengkan kepalanya. Ia menyesali keputusannya. Tapi, ia tidak bisa menarik kembali kata-katanya.

TBC…

Thanks to shinyunseong @syrfhdy15 yang udah mau buatin poster untuk ff ini. *dapat flying kiss dari Lu Han*. Makasih banget, saeng.
Leave your komen guys…

18 thoughts on “Nice Guy (Chapter 2)

  1. Astagaaaa ga nyangka luhan kayak gitu hahahaha tapi keren, karakter baru. Dan tetep ada kairin sama hunyoung yey😀 ditunggu next chapter nyaaaaa😀

  2. hahaa luhannya muna’ katanya bukan tipe dia wkwkwkkk seruu baekhyun suka juga ga yaa huhu penasaran next ya thor jangan lamalama salam maniss🙂

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s