Nice Guy (Chapter 3)

luhan-poster-request-copy1

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 3)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han (Luhan of EXO)
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Cast :
Yoon Se-jin (OC)
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
Kang Jeo-rin (OC)
Shin Min-young (OC)
Cho Yeon-sa OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Poster : @syrfhdy15
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission.

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

“Ternyata pernikahan itu melelahkan.” Kata Lu Han begitu ia duduk di sofa. Jiseul tidak menanggapi Lu Han. Ia menyibukkan diri melihat-lihat rumah barunya. Mertuanya menghadiahkan rumah mewah pada mereka. Lu Han memandangi Jiseul yang mengelilingi ruang tamu dengan tatapan mematikannya sampai gadis itu menghilang dari pandangannya. Lu Han melepas jas dan melonggarkan dasinya. ‘Pernikahan ini bukan hal yang penting. Aku berstatus sebagai laki-laki yang sudah menikah hanya di depan keluargaku dan keluarga Jiseul. Pernikahan ini tidak akan bias menghalangiku melakukan apapun yang kusuka.’ Lu Han menganggukkan kepalanya membenarkan pikirannya. Lu Han juga tidak bias menampik fakta ini. Pernikahannya sama sekali tidak merugikan. Kenapa? Fasilitasnya kembali begitu ia resmi menikah dengan Jiseul. Karena ia sudah punya rumah sendiri, ia tidak perlu lagi menjaga sikap di depan ayahnya. ‘I’m a free man now.’ Dari pemikiran Lu Han, kalian pasti tahu dia pria seperti apa. Lu Han tidak suka diatur. Sebelumnya Lu Han juga mempunyai sebuah apartemen mewah di Gangnam. Ia tinggal setahun di sana.. bagaimana bias ia tidak tinggal di sana lagi? Salahkan asisten pribadi ayahnya yang mendapati Lu Han clubbing. Pria yang Lu Han ketahui bernama Yoon Doo-joon itu memberitahu ayahnya bukan hanya soal clubbing, tapi juga ia yang keluar dari club bersama seorang wanita. Bencana Lu Han dimulai dari situ. Satu per satru fasilitas Lu Han ditarik ayahnya. Mulai dari kartu kredit, mobil, motor, dan terakhir apartemennya.mungkin kalau Tuan Lu tidak mendapati wanita di apartemen Lu Han, pria itu masih memiliki apartemen sekarang. Ia masih ingat apa yang terjadi sebulan yang lalu.

FLASHBACK

Tuan Lu berdiri di depan pintu apartemen Lu Han bersama istrinya. Kalau bukan karena paksaan Nyonya Lu, Tuan Lu tidak akan mau kemari. Sejak Lu Han tidak memiliki apa-apa, Lu Han tidak pernah pulang ke rumah. Lu Han juga tidak mau bertemu dengan ibunya. Hal itu membuat Nyonya Lu yang sangat memanjakan anaknya berpikir kalau Lu Han marah pada mereka, tidak mau pulang karena suaminya membekukan fasilitas anaknya. Nyonya Lu berusaha keras membujuk suaminya untuk menemui Lu Han. Iatidak tahu bagaiman Lu Han bertahan hidup. Setiap ia menelepon Lu Han, menanyakan kabar pria itu, ia selalu menjawab, ‘aku baik-baik saja’. Saat ia minta bertemu dengan Lu Han, pria itu menolak. Bahkan alasan Nyonya Lu yang ingin memberinya uang Lu Han tolak. Hal itu semakin membuat Nyonya Lu khawatir. Ia tahu Lu Han. Anak itu tidak bisa hidup susah. Kekhawatiran itu membuatnya lupa kalau Lu Han memiliki teman-teman yang kaya.
“Kita pulang.” Ucap Tuan Lu sebelum istrinya menekan bel apartemen Lu Han.
“Yeobo, kau sudah janji mau menemui Lu Han. Apakah kau tidak merindukan anak kita? Sudah satu bulan kita tidak bertemu dengannya.” Ucap Nyonya Lu sambil menekan bel apartemen Lu Han berkali-kali.
“Dia tidak ada. Ayo pulang.” Balas tuan Lu.
“Tidak. Dia pasti sedang tidur.” Nyonya Lu masih bertahan karena ia tahu Lu Han selalu tidur lama saat sedang libur.
“Apa dia sakit?” Tuan Lu menggelengkan kepalanya melihat kekhawatiran istrinya. Lu Han bukan anak kecil lagi. Nyonya Lu terus menekan bel sampai pintu terbuka, menampakkanLu Han yang mengusap matanya,hanya memakai boxer.
“Lu Han!” Nyonya Lu langsung memeluk Lu Han.
“Mama!” Lu Han terkejut. Ia tahu orang tuanya pasti memintanya pulang, cepat atau lambat. Tapi sekarang bukan saat yang tepat. Tuan Lu mengernyitkan dahinya. Ia kenal Lu Han. Anak itu akan memanggil ayah dan ibunya dengan bahasa mandarin dalam beberapa kondisi, seperti, terkejut,saat ia tidak sependapat dengan orang tuanya, saat ia sedang manja (lebih sering dengan Nyonya Lu).
“Terima kasih kau menjaga kesehatanmu, nak.” Ucap Nyonya Lu setelah mengecek tubuh Lu Han. Nyonya dan Tuan Lu masuk ke apartemen Lu Han tanpa menunggu Lu Hanmempersilahkan mereka masuk.
“Kenapa eomma dan appa datang kemari?” Lu Han berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Apa kau selalu tidur seperti itu? Hanya memakai boxer?” Tanya tuan Lu datar.
“Uum.. Aku—“
“Oppa..” Suara itu sontak menarik perhatian Tuan dan Nyonya Lu.
“Yeobo,” Nyonya Lu menyentuh tangan suaminya. Ia menatap horor wanita yang keluar dari kamar anaknya hanya dengan dibalut selimut.
“O.. Oppa,” Gadis itu sepertinya tahu siapa yang sedang bersama Lu Han. Seolah sadar, Lu Han langsung menuju gadis yang mematung di depan pintu kamarnya, lalu menarik menarik gadis itu masuk ke kamarnya.
“Apa itu? Anakku..Tidak mungkin..” Tuan Lu memijit pelipisnya, ia juga shock sama seperti Nyonya Lu. Tak lama Lu Han keluar dari kamarnya dengan gadis yang tadi-sudah berpakaian. Lu Han menarik gadis itu keluar dari apartemennya. ‘Aku dalam masalah besar.’ Lu Han kembali ke ruang tamu. Ia duduk di hadapan orang tuanya. Jantungnya berdetak kencang. Keheningan di ruangan itu semakin membuat Lu Han gugup.
“Lu Han,” suara Nyonya Lu pelan, masiih shock.
“Apa yang dilakukan perempuan itu di apartemenmu, kamarmu?” Lu Han tidak menjawab, ia menunduk.
“Kau tidak tidur dengan wanita itu kan?” lagi-lagi Lu Han diam. Ia merasa sedikit bersalah. Selama ini, ia begitu menikmati rutinitas malamnya sampai-sampai ia tidak memikirkan perasaan orangtuanya.
“Oh, Lu Han,” Nyonya Lu mengalihkan pandangannya dari Lu Han. Ia tidak menyangka anaknya sudah melakukan itu.
“Sejak kapan?” Lu Han memberanikan diri menatap ayahnya.
“Sejak aku duduk di kelas dua.”
“Sudah berapa wanta jalang yang kau bawa kemari?”
“Baba—“
“Jawab, Lu Han.” Tuan Lu menatap Lu Han tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia memukul anaknya.tapi ia tidak bisa, inikesalahannya karena ia tidak bisa mengawasi anaknya.
“Aku tidak tahu.”
“Kau tidak tahu?!” Tuan Lu menaikkan suaranya, membuat istri dan anaknya tersentak.
“Pasti sangat banyak sampai-sampai kau tidak tahu.” Kata Tuan Lu tajam.
“Kau tahu kenapa kami kemari?” Lu Han bungkam.
“Kami ingin mengembalikan semua fasilitasmu.” Sambung Tuan Lu melihat Lu Han yang menunduk.
“Tapi setelah mengetahui apa yang membuatmu boros, lebih baik kau tidak memiliki fasilitas sama sekali.” Lu Han mengangkat kepalanya.
“Baba,” Dia bisa bersenang-senang selama sebulan ini bukan pakai uangnya, tapi hutang.
“Pastikan kau pulang ke rumah hari ini. Kalau tidak, aku tidak akan mewariskan apa-apa padamu.”Tuan Lu bangkit dari duduknya.
“Appa tidak akan melakukan itu. Aku anak appa satu-satunya.” Tuan Lu tersenyum sinis.
“Percaya, anakku. Aku akan dengan senang hati memberikan hartaku pada instansi-instansi sosial daripada memberikannya pada anakku yang pasti menghancurkan usahaku tidak sampai satu minggu hanya demi tidur dengan wanita liar.” Dengan itu Tuan Lu keluar dari apartemen Lu Han diikuti istrinya.
“Mama,” Lu Han mengikuti ibunya,berharap ibunya mau membujuk ayahnya. Nyonya Lu berhenti. Ia menatap Lu Han sendu.
“Kau mengecewakan Mama, Lu Han.”

FLASBACK END

Kebiasaannya yang membawa pulang wanita ke rumah itu juga yang menyebabkan ia putus dengan Min Young. Lu Han menghela nafas. ‘Itu sudah berlalu.’ Lu Han merasakan handphonenya bergetar di saku celananya. Ia mengambil handphonenya.
“Sejin?” lu Han menautkan alisnya. Tumben. Biasanya Lu Han yang lebih dulu menghubungi gadis itu.
“Halo?”
“Lu Han.. kau sedang apa?” Suara Se-jin terdengar ragu.
“Sedang memikirkan gadis yang merajai hatiku.” Lu Han tersenyum miring karena Se-jin tidak langsung membalas ucapannya.
“Siapa?”
“Seorang gadis yang bernama Yoon Se-jin.” Lu Han tertawa dalam hati. Semua gadis akan meleleh kalau suah mendengar kata-kata manis Lu Han. Apalagi gadis seperti Se-jin. Wajahnya pasti memerah sekarang.
“Em, tadi aku tidak melihatmu di sekolah.”
“Aku ada urusan keluarga.” Lu Han terdengar serius.
“Oh.” Hening. Lu Han sedang malas merayu Se-jin. Ia menunggu gadis itu membuka topik pembicaraan.
“Se-jin, kau masih di sana?”
“I.. iya. Eum, Lu Han. Tentang yang waktu itu.. Aku mau jadi kekasihmu.” Lu Han terdiam. Ia sedikit kesal karena Se-jin membalas pernyataan perasaannya melalui telepon. Tapi dia tetap melanjutkan permainannya.
“Aku tidak salah dengar kan?” Lu Han pura-pura tidak percaya.
“Tidak. Aku mau jadi kekasihmu, Lu Han.”
“Aku ingin bertemu denganmu, Se-jin.” Suara Lu Han manja. Akting pastinya.
“Kau bisa datang ke apartemenku.”
“Tapi aku lelah. Kita bertemu di sekolah saja. Bye, honey.” Lu Han memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu balasan dari Se-jin.
“Bitch. Kalau kau tidak menerima ‘tawaran’ menjadi kekasihku sekarang, besok pasti kau sudah kehilangan popularitasmu, Se-jin.” Se-jin cukup populer. Ia mendapat predikat gadis tercantik ketiga setelah Jeo-rin dan Min-young. Tapi, popularitasnya semakin naik setelah majalah sekolah memberitakan pendekatan dengannya. Lu Han hanya main-main dengan Se-jin. Mungkin minggu depan ia sudah memutuskan Se-jin. Lu Han bangkit dari duduknya. Ia mengelilingi rumahnya yang luas sampai ia menemukan kamar dengan kertas yang menempel di pintu bertuliskan Lu Han  Ji-seul. Lu Han menggelengkan kepalanya. Ibunya tidak terduga.ia masuk ke kamar, mendapati Ji-seul menyelimuti dirinya.
“Kau tidur di sini?” Tanya Lu Han sambil membuka kancing kemejanya satu per satu.
“Em.” Sahut Ji-seul malas. Gadis itu memejamkan matanya. Lu Han menautkan alisnya. Sikap Ji-seul tidak seperti saat ia mencium gadis itu di rumah keluarga Choi, atau saat ia mencium Ji-seul di pemberkatan pernikahan mereka. Menurut Lu Han, gadis itu selalu takut kalau berada di dekatnya. Ji-seul tidak takut dengan Lu Han, tindakan Lu han yang tidak bisa diprediksilah yang membuat Ji-seul gugup. Tapi karena mereka sudah menikah, Ji-seul akan menunjukkan kalau ia tidak akan terpengaruh dengan apapun yang Lu Han lakukan.
“Kau yakin? Kau tidak takut—“ Lu Han menggantung ucapannya. Ji-seul mendudukkan dirinya.
“Apa? Kau mau melakukan apa padaku?” Lu Han tidak menduga akan memdapat balasan seperti ini dari Ji-seul.
“Kau tahu, hal yang biasa dilakukan pasangan suami-istri.” Ji-seul mengedipkan matanya berkali-kali. Baru menyadari Lu Han topless. Lu Han berjalan menuju tempat tidur.
“Malam pertama,” Lu Han mendekatkan wajahnya ke telinga Ji-seul.
“Sex.” Sambung Lu Han seduktif. Ji-seul bangkit tiba-tiba, kalau Lu Han tidak punyarefleks yangbagus, ia pasti sudah terduduk di lantai.
“Kau tahu, Lu Han? Ucap Ji-seul sambil mengambil bantal dan selimut.
“Aku tidak akan tidur di sini kalau ibu tidak mengunci semua kamar di rumah ini.” Ji-seul berjalan menuju sofa tidur. Paling tidak tubuhnya tidak sakit tidur di situ.
“Kau munafik sekali.” Ji-seul yang sedang menyusun bantal sofa langsung menatap tajam Lu Han.
“Semua wanita menginginkanku.” Lu han mengelus perut six packnya seduktif. Ji-seul memutar bola matanya malas. Ia merebahkan diri di sofa tidur dan meyelimuti dirinya.
“Aku pernah lihat yang lebih bagus dari itu.” Lu Han membulatkan matanya. ‘Dia pasti mengarang.’ Lu Han berdeham.
“Maksudmu si bule? Kau yakin?” Ji-seul memnutup kedua telinganya, berusaha mengabaikan Lu Han.
“Dari reaksimu saat kucium, aku yakin kau tidak pernah disentuh laki-laki kecuali berpegangan tangan.” Lu han menunggu reaksi Ji-seul. ‘Dia sudah tidur?’ Lu han mendudukkan dirinya di tempat tidur. Ia mendesah berat. ‘Aku lelah.ternyata berdebat dengan gadis jadi-jadian menguras tenaga.’ Lu Han menggelengkan kepalanya. ‘Kalau begini setiap hari, aku bisa cepat tua. Wajahku tidak bersinar lagi. Keriput!’ Lu han memegang wajahnya horor. Ia tidak mau itu terjadi. Lu Han merebahkan dirinya. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir. Setiap ia berinteraksi dengan Ji-seul, ia pasti naik darah. ‘Mungkin sebaiknya aku tidak usah melanjutukan rencanaku untuk mengerjai Ji-seul.’ Lu Han menguap. ‘Berterimakasihlah padaku karena aku berbaik hati padamu, Ji-seul.’
———————
Ji-seul mengambil kopernya begitu ia selesai memakai sepatunya. Ia tidak sempat memindahkan pakaian semalam karena lelah. Ji-seul melihat pakaiannya satu per satu, mencari pakaian olahraganya.
“Jangan bilang eomma lupa memasukkannya.”Gumam Ji-seul. Ia mengambil handphone dan menelepon ibunya.
“Bagaimana malam pertamamu dengan Lu Han, nak?” Ji-seul tidak menyangka akan mendengar itu begitu ibunya menjawab panggilannya. Ia menghela nafas.
“Eomma tidak memasukkan pakaian olahragaku.”
“Apa?”
“Aku tidak menemukan pakaian olahragaku di dalam koper, eomma.” Suara Ji-seul seperti anak kecil yang merajuk. Jarang sekali Ji-seul seperti ini.
“Benarkah? Maaf, sayang. Eomma lupa. Eomma terlalu bahagia dengan pernikahanmu.” Ji-seul mendesah berat.
“Eomma akan mengantar pakaianmu sekarang.”
“Tidak usah, eomma.” Ia tidak akan sempat menunggu pakaian olahraganya karena dua puluh menit lagi bel sekolahnya berbunyi. Sedangkan waktu yang dibutuhkan ibu untuk sampai adalah tiga puluh menit.
“Bagaimana kau olahraga nanti?” Ibunya merasa bersalah.
“Aku menyimpan pakaian cadangan di lokerku. Aku harus berangkat, eomma.”
“Maaf, sayang.”
“Aku akan mengunjungi eomma nanti.” Ji-seul mendesah berat. Ia tidak mau memakai pakaian yang ada di lokernya.
“Kau kenapa?” Ji-seul mendapati Lu Han yang sudah bangun tidur menatapnya aneh.
“Bukan urusanmu.” Lu Han memejamkan matanya. ‘Ini masih pagi dan dia sudah berhasil membuatku emosi.’
“Pastikan kau merahasiakan pernikahan ini.” Ji-seul memutar bola matanya. Ia berjalan menuju pintu. ‘Aku pasti sudah gila kalau melakukan itu. Aku masih belum bisa menerima kalau aku menikah dengan pria brengsek sepertimu.’

—————

Kabar Lu Han yang menjalin hubungan dengan Se-jin menyebar begitu cepat di sekolahnya. Chanyeol yang memberitahu Lu Han saat pria itu sedang dalam perjalanan menuju sekolah. ‘Sepertinya Se-jin sangat antusias dengan hubungan ini. Dia hanya ingin terkenal, Lu Han.’ Pria itu melihat wajahnya di kaca mobil sebelum keluar dari mobilnya.
“Lu Han!” Lu Han memegang dadanya karena suara yang tiba-tiba memanggilnya. Ia berbalik, mendapati Se-jin yang tersenyum manis padanya.
“Kau mengagetkanku, Se-jin.” Lu Han memeluk Se-jin.
“Kau lama sekali, Lu Han. Kau pasti dihukum kalau—“
“Itu tidak akan terjadi.” Lu Han melepas pelukannya. Se-jin menganggukkan kepalanya mengerti. Orang tua Lu Han salah satu donatur penting di sekolah ini.
“Kau mengkhawatirkanku?” Se-jin mengangguk. Lu Han tersenyum.
“Aku semakin menyukaimu, honey. Ayo.” Lu Han dan Se-jin bergandengan tangan menuju gedung sekolah.
Sementara itu, Ji-seul menatap kosong pakaian olahraga yang ada di lokernya. Ia pikir ia tidak akan pernah menggunakan pakaian itu. Pandangan orang pasti berubah setelah ia memakainya. Ia akan diperhatikan siswa di sekolahnya. ‘Ugh. . I hate this.’ Di luar sekolah Ji-seul terbiasa mendapatkan perhatian dari orang-orang, tapi kalau di sekolah, Ji-seul tidak tahu. Dua tahun ia memakai seragam longgar hanya karena seorang pria yang meninggalkannya. Walaupun begitu ia tidak menyesal. Ia nyaman dengan seragam longgarnya. Dan lagi, lokernya bersih dari surat cinta.
“Jiseul-ssi,” Seseorang menarik Ji-seul dari pikirannya.
“Oh? Selamat pagi, ketua.” Baekhyun tersenyum tipis.
“Kau terus memanggilku ketua sejak hari kedua sekolah.” Baekhyun mengulurkan tangannya.
“Byun Baek-hyun.” Ji-seul menjabat tangan Baekhyun.
“Choi Ji-seul.”
“Apa yang kau lakukan di depan lokermu?” Ji-seul menautkan alisnya. Baekhyun menggaruk tengkuknya. ‘Apa yang kau lakukan, Baek? Kalian baru kenal. Apa yang Ji-seul lakukan bukan urusanmu.’
“Maksudku, kau sudah berdiri di depan lokermu sekitar delapan menit tanpa melakukan apa pun.”
“Aku bingung.” Baekhyun menutup lokernya, tertarik dengan ucapan Ji-seul. Apa yang dibingungkan gadis itu?
“Kenapa?” Ji-seul menunjuk pakaian olahraganya. Sekarang giliran Baekhyun yang bingung.
“Apa pakaianmu koyak atau kotor?” Ji seul menggeleng.
“Pakaian ini pas di tubuhku. Aku terbiasa memakai pakaian longgar.” Baekhyun menggelengkan kepalanya. Itu bukan hal yang serius.
“Kau tahu?” Baekhyun tersenyum. Sikap Ji-seul yang membingungkan pakaian olahraganya manis, membuat ia semakin menyukai Ji-seul. Ji-seul menatap Baekhyun.
“Apa pun yang kau pakai, kau akan tetap terlihat cantik.” Ji-seul mengedipkan matanya berkali-kali. Sedangkan Baekhyun merasakan pipinya memanas. ‘Kau terlalu jujur, Baekhyun.’
“Um.. Aku duluan. Jangan terlalu lama si sini, Jiseul-ssi. Kau tahu Mr. Ok seperti apa.” Baekhyun tersenyum pada Ji-seul sebelum ia melewati gadis itu. Ji-seul berbalik, melihat Baekhyun yang berjalan menuju kelas mereka. Baekhyun orang kedua yang mengatakan itu setelah Kris. Ji-seul menghela nafas. Ia mengambil pakaian olahraganya, menutup loker, lalu berjalan menuju kelasnya.

—————–

“Kenapa kau memakai pakaian originalmu hari ini?” Tanya Yeon-sa begitu ia duduk di kafetaria. Ia baru sempat menanyakannya sekarang karena Chanyeol terus menempel dengannya saat pelajaran olahraga. Bahkan sekarang pria itu bergabung dengan mereka.
“Eomma-ku.. aku lupa kalau kita ada pelajaran olahraga hari ini.” Ralat Ji-seul. Hampir saja ia membongkar rahasianya sendiri. Yeon-sa menatap Jiseul penuh selidik.
“Kau yakin karena itu?” Jiseul mengangguk sambik meminum strawberry milknya.
“Aku pikir karena kau sudah move on.” Chanyeol hanya jadi pendengar yang baik sambil memakan kentang gorengnya.
“Move on?”
“Kau memakai seragam longgar karena Kris.” Yeonsa mengingatkan. Chanyeol menyentuh lengan Yeonsa.
“Siapa Kris?”
“Aku akan jelaskannya nanti, Yeol.” Balas Yeonsa.
“Aku pikir kau memutuskan untuk tidak memakai seragam longgar lagi.”
“Kenapa aku harus melakukan itu?” Sahut Jiseul sedikit kesal Karena Yeonsa menyinggung tentang Kris.
“Sebagai tanda kalau kau sudah move on dari Kris. Kau akan cepat mendapatkan pengganti Kris kalau kau menjadi dirimu yang sebenarnya. Kau tahu, saat pelajaran olahraga tadi murid-murid sekelas kita memperhatikanmu. Dan murid yang kumaksud disini adalah murid laki-laki.”
“Apa termasuk Chanyeol?” Jiseul menghela nafas. Ia mengerti maksud Yeonsa. Tapi ia punya pendapat yang tidak bisa diganggu gugat orang lain.
“Tidak masalah kalau aku memakai pakaian longgar atau tidak. Kalau ada laki-laki yang benar-benar menyukaiku, dia pasti tidak mempermasalahkan penampilanku.”
“Aku tahu siapa orang itu.” Ucap Chanyeol semangat yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Yeonsa. Sekarang bukan saatnya mereka memberitahu Baekhyun pada Jiseul.
“Aku tahu, Jiseul. Tapi kalau kau tidak memakai pakaian longgarmu, laki-laki yang mendekatimu pasti banyak.” Tentang move on, Jiseul sedang berusaha melakukan itu. Tapi kalau kekasih baru? Biar waktu yang menjawab.
Di bagian kafetaria yang lain, EXO juga sedang menikmati makanan mereka sambil mengobrol.
“Sehun mana?” Tanya Luhan karena ia tidak mendapati pria itu di meja mereka.
“Min Young memutuskan untuk menjauhkan Sehun darimu sebentar.” Sahut Kyungsoo datar.
“Kau menyulitkan Minyoung, Luhan. Kau mau tahu berapa lama Sehun mendiamkan Minyoung?”
“Tidak sampai satu hari kan?” Kai menggelengkan kepalanya mendengar sahutan Luhan yang tidak peduli.
“Tapi Minyoung tidak layak menerima tingkah laku Sehun yang dingin.” Kata Suho.
“Kenapa kalian membahas ini denganku? Mereka tidak putus kan? Kalian juga tahu kalau Minyoung dan aku hanya berteman. Ciuman itu bukan apa-apa.” Kai, Suho, Kyungsoo, hanya bisa menatap pasrah Luhan. Entah kapan Luhan bisa menganggap serius apa yang terjadi di sekitarnya.
“Aku mau bergabung dengan Chanyeol.” Baekhyun beranjak dari duduknya. Dia tidak mau berkomentar karena komentarnya tidak akan didengarkan Luhan.
“Hei, Kai.” Kai mengalihkan pandangannya dari meja Jiseul.
“Kau masih berencana mengerjai Jiseul?” Tanya Luhan.
“Tidak. Kau dengar apa yang dikatakan Jeorin kan?” Luhan menganggukkan kepalanya.
“Aku membenarkan ucapan Jeorin. Dan lagi, Baekhyun sudah mulai melakukan pendekatan dengan Jiseul.” Luhan, Suho, Kyungsoo, Kai, melihat meja Jiseul, mendapati teman-teman mereka saling bercanda.
“Baekhyun pintar memilih wanita.” Luhan, Kyungsoo, Suho menatap Kai, menunggu penjelasan pria itu.
“Saat olahraga tadi, Jiseul terlihat beda. Di balik seragam longgar itu terdapat tubuh yang indah.” Kyungsoo dan Suho menggelengkan kepala mereka.
“Ingat Jeorin, Kai.” Tegur Kyungsoo.
“Kalian pikir aku apa? Aku hanya ingin membenarkan ucapan Suho tempo hari.” Kai sedikit tersinggung. Dia setia pada Jeorin.
“Hanya mengingatkan, Kai.” Sambung Kyungsoo.
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa menyebabkan Jeorin meninggalkanku. Kalian tahu sendiri bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan Jeorin.”
“Kami mengerti. Kau seperti mau memakan kami, Kai.” Kata Suho. Mereka terus mengobrol. Tidak menyadari kalau sedari tadi Luhan tidak mendengarkan mereka. Ia hanya melihat Jiseul. Gadis yang berstatus istrinya itu memang cantik. Hal itu yang membuat Luhan mencium Jiseul di rumah keluarga Choi. Apa jadinya kalau teman-temannya tahu kalau ia menikah dengan Jiseul? Pandangan Luhan beralih pada Baekhyun yang terus tersenyum sambil mendengarkan cerita Jiseul.
“Luhan.” Suara Sejin mengalihkan perhatian EXO. Mereka menatap Sejin yang tersenyum pada mereka.
“Sejin,” Luhan berdeham. Ia menatap teman-temannya satu per satu.
“Kenalkan, dia Sejin, kekasihku sekarang.” Kai, Suho, Kyungsoo mengangguk.
“Hallo, aku—“
“Kami mengenalmu, Sejin. Semoga hubunganmu bertahan lama dengan Luhan.” Potong Kai membuat senyum Sejin menghilang. Dia tidak suka penyambutan Kai.
“Aku mau menemui Jeorin.” Kai bangkit dari duduknya.
“Um.. Kami ke kelas, Luhan.” Ucap Suho. Tanpa melihat Sejin, Suho dan Kyungsoo meninggalkan meja mereka. Luhan menggelengkan kepalanya. Ada apa dengan teman-temannya? Beberapa hari yang lalu mereka begitu mendukung pendekatannya dengan Sejin. Tapi setelah ia bersama Sejin, mereka seperti menolak gadis itu.
“Duduk, Sejin.” Luhan menarik Sejin untuk duduk di sebelahnya.
“Kau mau makan apa?” Luhan mengelus rambut Sejin lembut.
“Aku mau orange juice-mu.” Luhan tersenyum. Ia meletakkan orange juice-nya di depan Sejin.
“Kau yakin tidak mau makan?” Sejin menggeleng.
“Oke.” Luhan memakan sandwich-nya yang terlupakan. Sesekali ia mencuri pandang ke meja Jiseul. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu.
“Luhan,” Saat Sejin memanggilnya, Luhan sudah selesai makan. Ia mengambil orange juice-nya lalu meminumnya sampai habis.
“Apa EXO tidak menyukaiku?” Luhan menatap Sejin bingung.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” Sejin mengangkat kedua bahunya.
Ucapan Kai. Dia bahkan memotong perkenalanku.” Luhan menggenggam tangan Sejin membuat gadis itu menatapnya.
“Jangan dianggap serius. Tadi Kai sedang kesal dengan Dyo.”
“Kau yakin?” Luhan mengangguk.
“Mereka akan menyukaimu sama sepertiku.” Luhan berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Sejin.
“Ayo.” Sebelum meninggalkan kafetaria, Luhan melihat meja Jiseul. Sesuatu mengejutkan Luhan. Matanya membulat melihat Baekhyun yang mengusap sudut bibir Jiseul.

TBC…

Hai.. hai.. adakah yang merindukanku? Maaf ya baru muncul. Tiga/empat bulan terakhir aku sibuk. Nah, dari sekarang aku usahai untuk update terus tiap bulan. Komen chingus ^^

5 thoughts on “Nice Guy (Chapter 3)

  1. ya ampun jellokey kau tahu btapa q kngen kamu n smua ffmu…. q sll ngguin klnjutan2 ffmu.. krna ffmu kren2… ah akhirnya luhan mnikah jg..cinta sgitiga deh, yeay. smga cpt d lnjut

  2. uaaaaa aku tebak kyknya nanti luhan bkln kesal deh sma baekhyun dkt dkt cheonsa hha. Mkn penasaran nih qaqa. Next chap yaaaaaa ^^

  3. luhan mulai ada rasa nih ama Jiseul😀 *sotoy xD
    Lama banget aku nunggu updatean ff author ini. suka banget sama FF ini. Lanjutannya jgn lama2 ya author,aku bakal nungguin tiap bulan,hehe. fighting🙂

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s