Nice Guy (Chapter 4)

luhan-poster-request-copy1

Nice Guy

Tittle : Nice Guy (Chapter 4)
Author : Jellokey
Main Cast :
Lu Han (Luhan of EXO)
Choi Ji-seul (OC)
Byun Baek-hyun (Baek Hyun of EXO)
Support Cast :
Yoon Se-jin (OC)
Kim Jong-in (Kai of EXO)
Oh Se-hoon (Se Hun of EXO)
Kang Jeo-rin (OC)
Shin Min-young (OC)
Cho Yeon-sa OC)
And others
Length : Chaptered
Genre : romance, arranged marriage, school life, family, friendship
Rating : PG-17
Poster : @syrfhdy15
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t plagiat or copy paste without my permission.

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

 

“Jadi, siapa Kris?” Tanya Chanyeol pada kekasihnya. Mrs. Ahn, guru kesenian mereka belum masuk ke kelas. Karena rasa penasarannya, Chanyeol tidak bisa menahan mulutnya untuk mengucapkan itu.
“Dia mantan kekasih Jiseul.” Nama Jiseul sontak membuat Baekhyun membalikkan tubuhnya ke meja Chanyeol.
“Dia alumni yayasan ini. Saat Jiseul kelas satu SMP, Kris kelas satu SMA.”
“Bagaimana mereka bisa menjadi sepasang kekasih?” Chanyeol mengerti mereka sekolah di yayasan yang sama, tapi kemungkinan mereka untuk bertemu sangat kecil karena lokasi sekolah mereka berbeda.
“Kau tahu, Kris adalah idola semua murid di yayasan ini. Baik itu junior maupun junior karena dia adalah sosok sempurna yang diinginkan semua orang, terutama perempuan.”
“Apa termasuk dirimu?” Suara Chanyeol terdengar jealous.
“Walaupun dia sempurna, ada satu yang tidak kusukai dari Kris. Wajahnya selalu datar.” ‘Berarti aku lebih tampan darinya.’ Batin Chanyeol. Menurutnya, orang yang tidak memiliki ekspresi wajah adalah orang yang paling jelek di dunia.
“Jadi, bagaimana Jiseul bisa pacaran dengan Kris?” Baekhyun mengulang pertanyaan Chanyeol.
“Saat masih berada di SMP, Kris menjadi ketua di dua klub.”
“Bagaimana bisa?” Baru kali ini Chanyeol mendengar seseorang menjadi ketua dua klub sekaligus.
“Karena dia pintar, Yeol. Kris menjadi ketua klub basket dan klub seni. Dari situ cerita Jiseul dimulai. Untuk mengisi kegiatannya di sekolah, Jiseul memilih klub seni. Saat penerimaan anggota baru, Jongdae, ketua klub saat itu, mengundang ketua terdahulunya, Kris. Aku rasa hari itu kepala Jongdae terbentur sesuatu.” Chanyeol dan Baekhyun menatap Yeonsa bingung.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” Tanya Chanyeol.
“Karena dia menyuruh kami menggambar wajah datar Kris.” Yeonsa sebal mengingatnya. Saat itu adalah saat di mana ia gagal menggambar wajah orang pertama kalinya. Ia sangat ahli menggambar wajah manusia.
“Kris berkata semua gambar kami ‘bagus’. Tapi Kris menunjukkan satu gambar yang berbeda, gambar yang ia nilai memiliki nilai seni yang tinggi. Di gambar itu, wajah Kris tidak datar tapi tersenyum. Gambar itu milik Jiseul.” Yeonsa tidak tahu bagaimana bisa Jiseul menggambar Kris dengan senyum sedangkan objek yang mereka gambar berwajah datar. Ia masih penasaran sampai sekarang.
“Aku rasa sejak saat itu mereka mulai dekat.”
“Jadi, itu awalnya. Terus masalah pakaian?” Chanyeol tidak mengerti di bagian itu.
“Dia terlalu posesif. Hanya karena dia tidak suka Jiseul mendapat perhatian dari laki-laki, dia menyuruh Jiseul untuk memakai pakaian longgar.”
“Kenapa mereka putus?” Tanya Baekhyun. Mereka menjalin hubungan cukup lama, sangat disayangkan sekali.
“Jiseul dan Kris menjalani hubungan jarak jauh karena Kris melanjutkan studinya di Kanada. Di sana Kris menjalin hubungan dengan wanita lain.”
“Dia selingkuh?!” Chanyeol terkejut, tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang di-cap sempurna oleh banyak orang bisa melakukan itu?
“Kata Jiseul, dalam waktu dekat ini Kris akan menikah dengan wanita itu. Hanya itu yang kutahu. Sudah puas Mr. Park?” Chanyeol mengangguk lalu menepuk pundak Baekhyun. Gerakannya seperti seorang kakak yang menyuruh adiknya untuk segera mendekati gadis yang disukainya.
“Jiseul, single, Bro. Jangan lewatkan kesempatan ini.” Baekhyun menoleh ke kiri. Ia melihat Jiseul. Dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang gadis itu. ‘Bahkan di saat membaca pun dia terlihat manis.’ Batin Baekhyun.

———————–

“Choi Jiseul?” Jiseul mengangkat kepalanya, melihat siapa yang mengganggu konsentrasi membacanya.
“Jung-kook? Kau sekolah di sini?”
“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau sekolah di sini? Tahu begitu, aku tidak perlu memusingkan kepalaku dengan sekolah-sekolah bagus yang ada di Seoul.” Jiseul tersenyum kecil. Jung-kook adalah adik seniornya di klub seni dulu.
“Kau menetap di Seoul?” Jiseul sudah mengetahui rencana kepindahan Jung-kook dari Jeon-ha, seniornya. Tapi ia tidak menyangka secepat ini. Jung-kook mengangguk.
“Hari ini kau ada pemotretan untuk koleksi Spring Summer kakakku kan?” Jiseul membalas Jung-kook dengan gumaman. Sudah dua bulan ia menjadi model, tidak bisa dibilang model profesional. Ia hanya membantu seniornya.
“Apa kau sibuk setelah pemotretan?” Jiseul mengangguk. Jiseul tidak tahu berapa lama pemotretannya akan berlangsung, tapi setelah itu ia harus ke rumah mertuanya. Ibunya memberitahunya kalau mereka akan makan malam bersama di kediaman keluarga Lu.
“Aku pikir kau bisa menemaniku jalan-jalan di Seoul setelah pemotretan.” Ucap Jung-kook lemah.
“Lain kali kau mau menemaniku kan?” Ucap Jung-kook penuh harap. Jiseul mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia tahu Jung-kook memiliki rasa padanya. Jeon-ha yang memberitahunya. Tapi ia tidak mau menanggapi lebih lanjut karena ia hanya menganggap Jung-kook sebagai teman.
“Sampai jumpa, Jiseul.”
“Sampai jumpa, Jung-kook.” Jiseul melanjutkan bacaannya lagi. Ini salah satu cara Jiseul untuk menghabiskan waktunya. Ia masih punya waktu satu jam sebelum ia pergi ke butik Jeon-ha. Merasa tidak tertarik lagi dengan buku yang ia baca, Jiseul bangkit dari duduknya, berniat mencari buku lagi, novel lebih tepatnya. Ia berjalan melewati rak-rak yang berhubungan dengan buku-buku pelajaran, menuju sudut perpustakaan yang terisolasi. Semakin dekat dengan tujuannya, Jiseul merasa mendengar suara aneh. Erangan? Desahan? Jiseul tidak yakin. Apa dia berhalusinasi? Langkah Jiseul kecil dan lambat. Ia ragu untuk melanjutkan langkahnya.
“Lu… aah… Han..” Jiseul menghentikan langkahnya. Lu Han? Apa itu Lu Han sebangkunya? Gadis itu ingin berbalik, tidak mau melihat tindakan tidak senonoh di perpustakaan.
“Faster… ah.. Lu!” Jiseul mematung di tempatnya. Di depannya, seorang pria sedang mencium ganas seorang wanita yang punggungnya menempel di dinding dan kedua kakinya yang melingkar di pinggang si pria.
“Hmmph..!” Kejadiannya begitu cepat. Jiseul tidak bisa melihat scene erotis itu lagi karena seseorang menutup mata dan mulutnya, menyeretnya menjauh dari tempat itu. Jiseul berusaha berontak tapi tidak bisa.
“Ini aku, Baekhyun.” Mendengar itu, Jiseul berhenti meronta. Baekhyun melepas tangannya dari mulut dan mata Jiseul.
“Seharusnya kau langsung pergi dari situ.” Baekhyun menarik tangan Jiseul kembali ke mejanya. Bagaimana Baekhyun bisa tahu tempat Jiseul membaca? Sederhana, Baekhyun mengikuti Jiseul sejak gadis itu keluar dari kelas. Aneh? Begitulah cara Baekhyun untuk lebih mengenal Jiseul. Perasaannya tidak enak saat ia melihat seorang pria menghampiri gadis yang ia sukai. Ya, Baekhyun mempertegas perasaannya. Ia menyukai Jiseul. Ia tidak bisa menghapus wajah Jiseul dari ingatannya sejak pertama kali ia melihat gadis itu. Fakta yang ia dapat dari Yeonsa semakin membuat ia menyukai Jiseul. Ia yakin perempuan itu tipe setia dari hubungannya dan Kris.
“Aku terkejut. Aku tidak bisa berpikir.” Ini pertama kali Jiseul melihat adegan dewasa dan Jiseul tidak mau melihatnya secara langsung maupun tidak langsung.
“Jangan pikirkan itu.” ‘Aku harus bicara pada Lu Han. Sudah cukup ia bertindak sesukanya.’ Batin Baekhyun.
“Apa itu Lu Han?” Baekhyun mengangguk. Ia menatap Jiseul yang sudah lama menatapnya. Pandangan gadis beralih pada tangan Baekhyun yang masih menggenggam pergelangan tangannya.
“Maaf.” Baekhyun menggaruk tengkuknya, malu.
“Aku tidak percaya itu Lu Han.” Ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Lu Han di taman. Ia pikir Lu Han hanya mesum, tapi setelah melihat Lu Han melakukan ‘itu’, Lu Han berubah menjadi pria yang brengsek di matanya. ‘Buat apa aku memikirkan itu?’ Jiseul mengambil tasnya. ‘Jiseul benar-benar tidak tahu tentang EXO. Hal itu sudah biasa untuk Lu Han, Jiseul.’ Pikir Baekhyun.
“Apa kau mau pulang?” Mereka berjalan keluar perpustakaan.
“Tidak.” Jiseul tersenyum.
“Aku harus ke suatu tempat, Baekhyun. Sampai jumpa.” Jiseul berjalan cepat meninggalkannya. Baekhyun hendak bersuara tapi suaranya tertahan di tenggorokannya. Bahkan Jiseul tidak menoleh ke belakang untuk melihatnya. Baekhyun tersenyum kecil. ‘Take it slow, Baek.’

———————

“Noona, apa kita mau pulang?” Jaehyun bertanya pada kakaknya saat mereka berjalan menuju gerbang taman bermain.
“Iya, Jae. Ini sudah malam.” Jawaban Jeorin membuat Jaehyun cemberut. Taman bermain sangat indah di malam hari. Lampu warna-warninya membuat Jaehyun merasa melihat bintang dari jarak dekat.
“Tapi, aku masih ingin bermain. Hyung, ayo main lagi.” Jaehyun melihat Kai yang berada di sebelah kanannya dengan mata lebarnya yang berkaca-kaca. Bocah ini benar-benar tahu kapan menggunakan senjata andalannya. ‘Apa Jongin akan luluh lagi?’ Jeorin bertanya dalam hati.
“Kakakmu benar, Jaehyun. Kita sambung lain kali, oke?” Jeorin tersenyum melihat interaksi Kai dan adiknya. Awalnya, Jeorin tidak menyangka kalau Kai memiliki hati yang lembut. Ia pikir Kai akan menyerah begitu bertemu Jaehyun, sama seperti yang dilakukan laki-laki yang pernah mendekatinya. Tapi ternyata tidak. Baru Kai—pria yang dengan maksud menjadikannya kekasih yang berhasil mengatasi kejahilan Jaehyun.
“Tapi, hyung—“
“Kau mau makan ayam goreng?” Jeorin tersenyum geli. Bahkan Kai bisa membuat Jaehyun sama maniaknya seperti Kai terhadap ayam goreng. Terang saja wajah Jaehyun langsung sumringah. Jeorin menggenggam tangan kiri Kai setelah pria itu menggendong Jaehyun yang sedang mengoceh tentang rencananya besok bersama Kai.
“Kau berhasil menggantikan posisiku sebagai kakak Jaehyun.” Canda Jeorin.
“Aku tidak menggantikanmu, Baby. Aku memang kakak ipar Jaehyun bukan?” Kai menatap Jeorin jahil.
“Hyung mau menikah dengan noona?” Celetuk Jaehyun membuat pasangan itu terkejut. Walaupun Jaehyun baru berusia lima tahun, tapi tingkahnya seperti orang dewasa di saat-saat tertentu. Kai tersenyum.
“Eum. Kau senang?” Jaehyun mengangguk antusias.
“Kalau kalian sudah menikah, aku bisa bermain dengan hyung setiap hari.” Kai tertawa kecil. Jiwa anak-anak Jaehyun masih ada ternyata.
“Jadi, kita makan di mana?” Tanya Jeorin, menghentikan percakapan tentang pernikahannya dan Kai yang sangat didukung Jaehyun.
“Mc Donald.” Sahut Jaehyun semangat.
“Tidak, Jaehyun. Kau terlalu sering makan di sana.” Ucap Jeorin tegas. Bukan Jeorin tidak suka mereka makan di sana, tapi terlalu sering makan makanan cepat saji tidak baik buat kesehatan, bukan?
“Jongin hyung,” Jaehyun memeluk leher Kai, tidak mau melihat Jeorin.
“Aku tidak akan membawa kalian ke sana.” Bisik Kai di telinga Jeorin.
“Hyung, kita ke Mc Donald kan?” Jeorin mendesah berat karena Jaehyun yang masih bersikeras. Sejak ia akrab dengan Kai, Jaehyun selalu mencari pembelaan dari Kai kalau ada hal yang tidak disukai bocah itu dari Jeorin. Dan Kai terlalu memanjakan Jaehyun. Pria itu lebih sering mengabulkan permintaan Jaehyun daripada mengabaikannya.
“Hyung tahu sebuah restoran,” Kai melihat Jaehyun dengan tatapan misteriusnya, membuat Jaehyun mendengarkannya dengan seksama.
“Restoran ini, ayam gorengnya enaaak sekali.”
“Benarkah?” Jaehyun menatap Kai dengan mata berbinar. Kai mengedipkan sebelah matanya pada Jeorin yang dibalas tatapan tajam dari Jeorin. Detik berikutnya Jeorin tersenyum. Selalu seperti itu. Hanya satu kalimat dari Kai dan Jaehyun langsung menurutinya.

——————

“Hyung, aku bosan.” Kai dan Jaehyun sedang duduk di sofa sebuah butik di Gangnam, menunggu Jeorin mengambil dress pesanannya. Tiga puluh menit, Kai rasa kalau hanya mengambil pesanan tidak memakan waktu sebanyak itu. Yang Kai tidak tahu, Jeorin melihat-lihat dress lagi.
“Ini koleksi terbaru butik kami, Nona.” Ucap pelayan yang mendampingi Jeorin. Jeorin mengamati dress merah yang ia pegang.
“Ini bukan desain Jeon-ha.” Jeorin sangat mengenal pemilik butik yang menjadi designer pribadinya selama dua tahun. Pelayan itu pergi sebentar lalu kembali dengan membawa sebuah album.
“Nona benar. Dress ini didesain oleh junior dan model untuk koleksi S/S Presdir Jeon-ha.” Wanita itu membuka album yang ia pegang.
“Ini orang yang mendesain dress ini, Nona.” Mata Jeorin membulat melihat foto di album itu. ‘Ini Choi Jiseul, gadis yang disukai Baekhyun.’
“Saya membeli dress ini.” Jeorin menyerahkan dress yang ia pegang dan mengambil album foto dari si pelayan. Ia membawa album itu ke tempat Kai menunggu.
“Kau sudah selesai?” Alis Kai bertaut melihat wajah terkejut Jeorin.
“Ada apa, Baby?” Tanya Kai pada Jeorin yang sudah duduk di sampingnya. Jeorin tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan album yang ia bawa pada Kai. Walaupun bingung, Kai tetap membuka album itu. Sama seperti Jeorin ia juga terkejut, tapi hanya sedikit.
“Choi Jiseul?” Jeorin mengangguk.
“Dia model untuk koleksi Jeon-ha.” Jeorin diam. Dahinya berkerut, ia berpikir keras. Bagaimana model seperti Jiseul tidak pernah terekspos di sekolah sekalipun? Jiseul benar-benar pintar menutupi jati dirinya.
“Kita harus memberitahu Baekhyun.” Sambil melihat-lihat foto Jiseul, Kai menelepon Baekhyun.
“Byun, kemari sekarang.” Kai mengatakan alamat di mana ia berada lalu menutup sambungan telepon.
“Baekhyun tidak akan kemari kalau kau meneleponnya seperti itu, Jongin.” Kata Jeorin sedikit kesal.
“Dia pasti kemari.” Kai menutup album itu lalu mengelus kepala Jaehyun yang tidur di pangkuannya.
“Kenapa aku tidak pernah menyadari keberadaannya?” Gumam Jeorin. Kai tersenyum penuh arti lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Jeorin.
“Karena kau sibuk memperhatikanku.” Bisik Kai lalu mencium pipi kekasihnya.
“Ugh.. Sekarang bukan saat yang tepat untuk merayuku, Jongin.”
“Kau selalu suka rayuanku.” Balas Kai. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jeorin.
“Kapan kau pindah ke apartemenku, Baby?” Kai mengalihkan pembicaraan. ‘Tidak ini lagi.’ Jeorin menghela nafas.
“Jongin, kita sudah sering membahas ini.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin mencoba keberuntunganku. Mungkin kau berubah pikiran.” Suara Kai manja, salah satu kartu andalannya untuk meluluhkan kekasihnya.
“Tidak, Jongin.” Sahut Jeorin setelah terdiam cukup lama.
“Oke. Aku tidak akan menanyakannya lagi.” Suara Kai pelan, masih belum terbiasa dengan penolakan Jeorin tentang masalah yang satu itu.
“Kalau saatnya tiba, aku pasti pindah ke apartemenmu.” Jawaban yang sama seperti sebelumnya. Kai tidak mengerti tujuan dari jawaban Jeorin. Hubungan mereka sudah berjalan selama tiga tahun. Orang tua mereka juga tahu kalau mereka menjalin hubungan spesial. Ia juga sudah memanggil orang tua Jeorin dengan sebutan ayah dan ibu, begitu juga sebaliknya. Tindakan mereka juga sudah jauh dari batas pacaran. Itu poin yang paling penting. Jadi, tidak masalah kalau mereka tinggal bersama. Kai selalu berpikir seperti itu.
“Kita pulang kalau Baekhyun tidak tiba di sini dalam waktu sepuluh menit.” Kai mengangkat kepalanya dari bahu Jeorin. Merasa Kai tidak mau bicara lagi dengannya, Jeorin pun menoel pinggang Kai.
“Kau tidak merajuk kan?”
“Tidak.” Jawab Kai tanpa menatap Jeorin. Jeorin tahu betul kalau Kai merajuk. Pria itu akan melihat ke mana saja asalkan bukan Jeorin.
“Apa yang terjadi kalau fans-mu tahu kau suka merajuk dan manja?”
“Mereka akan semakin mencintaiku.” Balas Kai tidak peduli. Jeorin mengetukkan telunjuknya di dagunya, pura-pura berpikir keras.
“Kalau begitu cintaku padamu akan berkurang sedikit demi sedikit.” Kai langsung menoleh, melihat Jeorin dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Jeorin mengatakan itu tanpa mengalami kesulitan? Jeorin menatap Kai lembut, pria yang tidak ia sangka bisa mencintai dengan sangat tulus dan dalam. Her man.
“Aku bercanda, Jongin.”
“Tidak lucu, Jeorin.” Kai membuang nafasnya kesal. Satu yang harus kalian tahu tentang mantan playboy ini, dia sangat sensitif.
“Jangan marah.” Jeorin menangkupkan tangannya di wajah Kai. Ia tersenyum begitu Kai menatapnya sama seperti ia menatap pria itu.
“Aku mencintaimu, Jongin. Sangat, sangat mencintaimu.” Seolah tidak peduli dengan sekitarnya, mereka saling mendekatkan wajah mereka. Tangan Jeorin yang tadinya berada di wajah Kai sekarang sudah berada di leher pria itu. Ia memejamkan matanya saat bibir Kai sudah menempel di bibirnya.
“Aku kemari bukan untuk melihat kalian berciuman.” Suara berat itu menghentikan ciuman mereka. Baekhyun berdecak melihat keduanya saling menjauhkan wajah mereka. Gerakan Kai jelas mengganggu tidur Jaehyun.
“Tidur, Jae. Sebentar lagi kita pulang.” Kai mengelus rambut Jaehyun, membuat bocah yang berstatus sebagai calon adik iparnya nyenyak kembali.
“Ada apa? Aku harap kau menyuruhku kemari karena hal yang penting.” Kata Baekhyun sedikit kesal.
“Lihat album itu, Baek.” Kai berucap pelan, tidak ingin suaranya membangunkan Jaehyun. Baekhyun menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu. Kalau orang yang tidak kenal Kai dan Jeorin melihat ini, mereka pasti mengira kalau Kai dan Jeorin adalah pasangan muda dengan Jaehyun sebagai anak mereka. Baekhyun mengabaikan pemikirannya. Ia membuka album itu, mendapati foto Jiseul dengan berbagai pose dan ekspresi wajah. Jiseul memang cantik, baik di sekolah maupun di foto yang ia lihat. Itu menurut Baekhyun, salah satu orang yang bisa melihat siapa Jiseul sebenarnya.
“Ini Jiseul.” Kai dan Jeorin saling menatap, bingung melihat reaksi Baekhyun yang biasa saja.
“Hanya itu? Aku pikir kau akan berkata, ‘dia cantik sekali’.” Baekhyun tertawa mendengar Kai.
“Dia sama saja seperti di sekolah. Yang berbeda hanya pakaian yang ia pakai. Dan poin yang paling penting dia tidak begitu mencolok di sekolah.” Terang Baekhyun membuat Kai terperangah.
“Dia sangat menyenangkan. Sekali kau mengobrol dengannya, kau pasti langsung cocok dengannya, Jeorin.” Baekhyun menatap Jeorin. Kekasih temannya itu sangat berhati-hati dalam memilih teman.
“Kau bicara seperti sudah lama mengenal Jiseul.” Pria yang suka menggunakan eyeliner itu tersenyum. Pikirannya kembali pada saat ia bersama Jiseul di perpustakaan tadi sore.
“Aku ingin lebih mengenalnya lagi.” Baekhyun menutup album yang ia pegang.
“Aku pulang.” Pria itu berdiri, melihat sebentar Jaehyun yang tidur di paha Kai.
“Dan berhenti membawa Jaehyun kencan bersama kalian.” Ucap Baekhyun sebelum meninggalkan Kai yang tidak mendengar nasehatnya karena pria itu menatap Baekhyun takjub.
“Dia benar-benar jatuh cinta.” Kai tersenyum. Melihat sikap Baekhyun, ia sangat yakin kalau Jiseul gadis yang baik. Tapi, senyum Kai menghilang begitu mengingat temannya yang lain. Lu Han.

——————

“Mama!” Lu Han mencium pipi kiri dan kanan ibunya lalu duduk di samping ibunya. Ia terlambat datang ke acara makan malam keluarganya. Acara makan malam pertama setelah ia menikah dengan Jiseul. “Ayah, Ibu.” Lu Han menganggukkan kepalanya kepada mertuanya yang dibalas senyuman dari keduanya.
“Kenapa kau tidak bersama Jiseul, Lu Han?” Tanya Nyonya Lu.
“Uh..” Lu Han terdiam. Ia tidak terpikir untuk memberitahu Jiseul karena ia terlalu ‘sibuk’ dengan Sejin.
“Sebentar lagi Jiseul akan datang.” Ucapan Nyonya Lu membuat Lu Han lega.
“Dia ada urusan, Ibu. Jadi, dia menyuruhku duluan kemari.” Sambung Lu Han yang tentu saja bohong. Ia tidak tahu di mana Jiseul berada. ‘Apa Jiseul tahu tentang makan malam ini?’ Lu Han merasa tidak yakin dengan ucapan ibu mertuanya yang mengatakan Jiseul akan datang.
“Bagaimana rasanya jadi pengantin baru, Lu Han?” Tanya Nyonya Lu menunggu kedatangan Jiseul.
“Bagaimana malam pertama kalian?” Sambung Nyonya Lu membuat anaknya terkejut. Ia melihat kedua mertuanya. Apa-apaan ibunya, membicarakan hal seperti itu di depan mertuanya. Tidak sopan! Ini pertama kalinya Lu Han berpikir kalau berbicara tentang seks (malam pertama) tidak sopan.
“Um.. Lancar.. aku rasa.” Ucap Lu Han pelan sambil menunduk.
“Aww.. apa putraku malu?” Nyonya Lu mencubit pipi Lu Han gemas.
“Mama!” Tuan Lu memperhatikan Lu Han lekat. Ia yakin anaknya belum berubah walaupun sudah menikah. Apa yang Tuan Lu pikirkan? Lu Han tidak mungkin berubah secepat itu. Pernikahan anaknya bahkan belum ada satu minggu.
“Ibu hanya ingin mengingatkanmu, Nak. Kalau kalian berhubungan intim, jangan lupa pakai pengaman.” Lagi-lagi Lu Han dikejutkan oleh kefrontalan ibunya. Lu Han mengabaikan ucapan ibunya. Lu Han tidak perlu diingatkan, ia sangat ahli dalam hal itu.
“Mama tidak melarang kalian untuk memberikan kami cucu,” Cucu? Bagaimana bisa pembicaraan ini sampai sejauh itu? Lu Han akui ia sangat ingin tidur dengan Jiseul. Siapa yang tidak mau? She is perfect. Definitely, Lu Han type of girl. Tapi, kalau sampai punya anak? Lu Han tidak pernah memikirkan itu. Kalau bukan karena perjodohan ini, Lu Han juga tidak pernah memikirkan pernikahan.
“Tapi, kalian harus memikirkan sekolah kalian terlebih dahulu.” Lu Han mengangguk mengerti.
“Lu Han,”
“Ya, Baba.” Lu Han melihat ayahnya. Ayahnya hanya bicara padanya kalau penting saja.
“Ayah harap kau bisa lebih serius. Kau sudah menikah. Kau harus bisa berpikir dewasa, Lu Han. Berpikir dua kalinya sebelum bertindak. Mungkin sekarang kebutuhanmu masih kami yang memenuhi. Tapi, kalau kau sudah selesai sekolah, kau sendiri yang akan memenuhi kebutuhanmu dan Jiseul.” Tuan Lu melihat putranya serius.
“Dan perlakukan Jiseul dengan baik.” Lu Han menautkan alisnya. Apa maksud ayahnya?
“Maaf, aku terlambat Ayah, Ibu.”

—————

“Bagaimana kabar anak Ibu setelah tinggal dengan suaminya?” Tanya ibu Jiseul saat mereka berada di dapur menyiapkan teh untuk keluarga mereka yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
“Baik, Ibu.” Jawab Jiseul sambil menuangkan teh ke dalam gelas.
“Ibu yakin kalau kalian belum bisa menerima pernikahan ini.” Nyonya Choi terdengar serius, berbeda sekali dengan saat ia mengobrol dengan Jiseul di telepon.
“Tapi, Ibu harap kalian mau saling membuka diri satu sama lain.” Sambung Nyonya Choi. ‘Itu tidak mungkin terjadi.’ Batin Jiseul.
“Aku akan mencobanya, Eomma.” Jiseul mengangkat nampan, membawa teh dan cemilan yang ia siapkan ke ruang keluarga. Ia tidak bisa melakukan apa yang dikatakan ibunya. Tapi, ia juga tidak bisa mengecewakan orang tua yang sudah memberikan kebahagiaan padanya, melengkapi kebutuhannya sampai ia sebesar ini. Nyonya Choi hanya bisa memandangi punggung putrinya. Ia juga tidak mau anaknya menikah semuda ini. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Membayar hutang budi lebih sulit daripada hutang materi. Hanya Jiseul yang bisa membuat hutang budi keluarga mereka kepada keluarga Lu lunas. Nyonya Choi berharap Jiseul bisa bahagia dengan Lu Han.

——————

“Kalian yakin tidak mau menginap di sini?” Nyonya Lu menatap Lu Han dan Jiseul penuh harap. Sudah tiga kali ia menanyakan itu tapi jawaban anaknya tetap saja tidak sesuai harapannya.
“Lu Han, Ibu merindukanmu, nak.” Tuan Lu melihat istrinya. Bagaimana anaknya bisa mandiri kalau istrinya berkata seperti itu?
“Aku lebih menyukai rumah kami.” Lu Han melingkarkan tangan kirinya di pinggang Jiseul yang berdiri di sampingnya. Tindakan akting Lu Han membuat Jiseul tersentak.
“Lagipula, sudah ada istriku yang selalu memanjakanku setiap saat.” Jiseul bergidik ngeri mendengar ucapan Lu Han. Apa yang direncanakan pria ini?
“Yang pengantin baru.” Nyonya Lu memeluk suaminya. Lu Han tersenyum mendapati ayahnya yang terkejut karena tindakan ibunya. Terkadang Lu Han berpikir, Bagaimana bisa ibunya, seorang wanita yang ceria, menikah dengan ayahnya, pria yang dingin dan kaku.
“Sayang, aku iri pada mereka.” Jiseul menatap kagum mertuanya. Walaupun mereka sudah tua, mereka terlihat seperti pasangan muda yang selalu mesra.
“Pulanglah, nak. Ini sudah malam dan besok kalian harus sekolah. Kalau ada waktu datanglah kemari.” Ucap Tuan Lu. Lu Han mengangguk.
“Aku pulang, ayah.” Lu Han membungkuk hormat pada ayahnya, membuat Jiseul heran. Kenapa Lu Han seformal itu pada ayahnya?
“Mama,” Lu Han memeluk ibunya. Mata Nyonya Lu berkaca-kaca. Ia masih tidak percaya kalau anak laki-lakinya sudah menikah.
“Aku juga merindukan, Mama.” Ucap Lu Han pelan.
“Oh, Lu Han. Kau masih anakku ternyata.” Lu Han terkekeh mendengar ibunya.
“Tentu saja aku anakmu, Ma.” Lu Han melepas pelukannya.
“Aku akan mengunjungi ibu lagi.” Nyonya Lu mengangguk.
“Kami pulang, ayah, ibu.” Jiseul memeluk ayah dan ibu mertuanya bergantian.
“Hati-hati di jalan, nak.” Lu Han membunyikan klakson mobilnya sebelum meninggalkan rumah orangtuanya.
“Apa yang kau lihat dari Lu Han saat makan malam tadi?” Tanya Tuan Lu pada istrinya, mereka masuk ke dalam rumah.
“Dia belum berubah. Tapi dia sangat sopan di hadapan mertuanya tadi. Kita tidak salah menikahkan Lu Han dengan Jiseul.” Jawab Nyonya Lu, lalu berpikir.
“Sayang, apa menurutmu Lu Han akan berperilaku sama seperti sekarang kalau kita menikahkannya dengan gadis lain?” Nyonya Lu melihat suaminya yang berpikir keras. Lu Han pasti langsung pergi dari acara makan malam kalau ia tidak menyukai Jiseul. Bukan duduk manis, berakting seolah-olah ia tidak tahu tentang perjodohan yang sudah direncanakan orang tuanya. Lu Han sudah sering kabur dari pertemuan perjodohan yang Tuan Lu rencanakan.
“Aku tidak tahu. Tapi aku sangat menyukai Jiseul sebagai pendamping Lu Han.”

——————–

Jiseul masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Ia melepas sepatunya lalu menekan saklar membuat semua lampu yang ada di rumah itu menyala. Ia berjalan menuju kamar Lu Han. Ya, kamar Lu Han. Ia tidak akan tidur di kamar itu lagi. Jiseul berhasil mendapatkan kunci semua ruangan di rumah itu dari Nyonya Lu setelah berhasil meyakinkan ibu mertuanya kalau ia tidak akan tidur terpisah dengan Lu Han seperti yang ada di drama-drama. Kalau saja ibu mertuanya tahu, mereka sudah tidur terpisah sejak malam pertama walaupun mereka masih berada di ruangan yang sama. Jiseul merebahkan dirinya di sofa. Merilekskan tubuhnya sebentar. Ia memejamkan matanya. Ingatannya kembali saat ia mengobrol hanya berdua dengan ayah mertuanya.
Flasback
“Bagaimana kabarmu, Jiseul?” Tanya Tuan Lu saat ia mengajak Jiseul mengelilingi rumahnya.
“Baik, ayah.” Sahut Jiseul tanpa melihat ayah mertuanya.
“Kenapa aku merasa kau canggung padaku? Padahal dulu kau tidak pernah canggung pada ayah.” Jiseul tertawa kecil. Kelihatan sekali ternyata kalau ia canggung.
“Aku hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah paman jadi ayah mertuaku. Apalagi kalau hanya ngobrol berdua begini.” Tuan Lu tersenyum menanggapi kejujuran Jiseul.
“Apa yang kau rasakan setelah kau tidak tinggal lagi dengan orang tuamu, nak?”
“Aneh, tidak nyaman.” Jawab Jiseul cepat.
“Mungkin akan sedikit berbeda dan menyenangkan kalau aku mengenal orang yang tinggal denganku.” Sambung Jiseul pelan.
“Jiseul, ayah akan memberitahumu kenapa ayah meminta ayahmu untuk menikahkanmu dengan Lu Han.” Tuan Lu menghentikan langkahnya membuat Jiseul juga berhenti.
“Lu Han, anakku itu, dia suka bermain dengan perempuan.” ‘Jadi, mereka juga tahu?’ Batin Jiseul terkejut.
“Ayah tidak tahu sejak kapan ia memiliki kebiasaan itu. Tapi yang jelas saat di Cina dia tidak seperti itu. Ia bahkan tidak memiliki kekasih di sana. Kami, terutama ibumu selalu menasehati Lu Han untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Tapi, tidak pernah Lu Han dengarkan. Sampai di suatu saat—“ Tuan Lu tidak mengatakan kejadian yang satu itu, kejadian di mana ia dan istrinya mendapati wanita di apartemen Lu Han.
“Kami memutuskan untuk membekukan semua fasilitas Lu Han, tapi tetap saja ia tidak berubah. Pernikahan adalah cara terakhir yang kami pikir bisa menghentikan Lu Han. Ayah pikir pernikahan ini bisa membuat Lu Han berubah.” Jiseul berusaha mencerna ucapan Tuan Lu. Apa pernikahan ini bisa dianggap serius? Ia merasa seperti dijadikan alat untuk merubah Lu Han yang ia yakini tidak mungkin terjadi.
“Jangan berpikir kalau kami memanfaatkanmu, nak. Kami sangat menyukaimu sebagai menantu kami. Dan kami juga berharap agar pernikahan kalian bertahan sampai kalian tua.” Tuan Lu menatap Jiseul yang berdiri seperti patung di depannya.
“Terkadang Lu Han bisa sangat menyebalkan, Jiseul.”
“Dia anak yang manja.” Sambung Tuan Lu karena tidak mendapat balasan dari Jiseul.
“Ayah mempercayakan Lu Han padamu, Jiseul.”
“Aku tidak tahu, ayah. Aku bahkan tidak menginginkan pernikahan ini.” Jiseul tidak berusaha untuk menutupi fakta itu.Kami mengerti. Tapi, cobalah untuk mengenal Lu Han. Kau gadis yang tepat buat Lu Han.”
Flasback End
Jiseul membuka matanya. Peristiwa saat di perpustakaan melintas di kepalanya lalu beralih ke saat di mana Lu Han memeluk ibunya. Dua sikap yang bertolak belakang. Lu Han yang tidak peduli dan Lu Han yang lembut. Yang mana sebenarnya sisi asli Lu Han? Jiseul mendudukkan dirinya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan ucapan Tuan Lu. Kalau Lu Han memang anak yang baik, laki-laki itu pasti bisa berubah tanpa bantuan siapapun. Jiseul mengernyitkan dahinya. Berdasarkan pengalamannya, untuk bisa melakukan perubahan yang baik, harus ada sesuatu yang memotivasi orang yang ingin berubah. ‘Ah, sudahlah. Biarkan waktu yang menjawab semuanya.’ Jiseul bangkit dari duduknya. Ia mengambil kopernya yang berada di samping lemari Lu Han.
“Kau mau ke mana?” Suara Lu Han menghentikan langkah Jiseul. Ia berbalik. Betapa terkejutnya Jiseul mendapati Lu Han berdiri tepat di depannya hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
“Pindah ke atas.” Sahut Jiseul datar. Lu Han menautkan alisnya. Bukankah semua ruangan kecuali kamarnya dikunci?
“Aku berhasil mendapatkan kunci dari ibu. Jadi, mulai sekarang aku tidur di atas.” Lu Han menahan tangan Jiseul sebelum gadis itu menjauh darinya.
“Bagaimana kalau ibu tahu kita tidak tidur bersama?” Jiseul tersentak. Tiba-tiba insiden di perpustakaan memenuhi kepalanya. Desahan-desahan itu terdengar jelas di telinga Jiseul. Jiseul melihat tangan Lu Han yang mencengkeram lengannya. Tangan itu adalah tangan yang sudah menyentuh seluruh bagian tubuh Sejin.
“Jangan sentuh aku.” Jiseul menggertakkan giginya. Mata Lu Han membulat, shock dengan reaksi Jiseul.
“Kau menjijikkan, Lu Han.” Bisik Jiseul. Ia menghela nafas melihat kebingungan Lu Han. Ya, pria itu bingung. Bagian mana dari dirinya yang menjijikkan?
“Aku ingin memperjelas kesepakatan kita.” Ucap Jiseul serius.
“A-aku mendengarkan.” Lu Han tidak tahu kenapa ia terbata dan menurut pada Jiseul. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya dia yang mendominasi Jiseul.
“Mulai sekarang anggap kita hanya orang asing yang tidak saling mengenal. Anggap pernikahan ini tidak ada. Jangan campuri urusanku begitu juga sebaliknya aku tidak akan mencampuri urusanmu. Lakukan apapun yang kau inginkan di rumah ini karena rumah ini rumahmu. Aku tidak peduli asalkan kau tidak mengganggu ketenanganku di atas.” Jiseul tidak peduli dengan permintaan Tuan Lu karena ia sangat yakin pernikahannya dengan Lu Han tidak akan berhasil. Pernikahan yang didasari dengan cinta saja bisa gagal, apalagi pernikahan yang tidak didasari cinta? Lagipula, Lu Han bukan tipe pria yang ingin ia jadikan suami. Jangankan suami, berteman pun tidak.
“Ini tidak ada bedanya dengan apa yang kukatakan padamu.” Balas Lu Han acuh tak acuh.
“Aku hanya ingin memastikan kau tidak lupa dengan apa yang sudah kau katakan.”
“Oh, satu lagi. Jangan pernah sentuh aku.” Ucap Jiseul penuh penekanan di setiap kata-katanya. Setelah memastikan kalau Lu Han menangkap pesannya, Jiseul menarik kopernya keluar kamar Lu Han. Suara pintu yang berdebam membuat Lu Han tersadar dari lamunannya. Apa yang terjadi pada Jiseul? Sejak mereka menikah sampai tadi pagi, ia berhasil mengintimidasi gadis itu. Dari mana Jiseul mendapatkan kepercayaan diri sebesar itu sampai ia dengan pasti berani menatap Lu Han tepat di matanya. Hal seperti itu jarang sekali terjadi.
“Apa peduliku? Ini bagus. Kami punya pendapat yang sama.” ‘Itu artinya kami cocok.’ Lu Han menggelengkan kepalanya.
“Apa yang kupikirkan? Aku rasa aku harus mencari boneka baru. Sejin membosankan.”

TBC…

Maaf lama  leave your comment please..

7 thoughts on “Nice Guy (Chapter 4)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s